Ancaman Terhap Ikan di Indonesia

Ancaman Terhap Ikan di Indonesia

Penjaga laut, negeri kepulauan yang terbentang dari Sabang-Merauke ini adalah surga bagi ribuan jenis biota laut yang berenang melintasi Samudera Pasifik ke Samudera Hindia. Gugus pulau yang terbentuk dari subduksi empat lempeng besar seperti Indo-Australian, Eurasian, Philipine dan Pasifik telah melahirkan proses putus-sambung lautan yang memungkinkan evolusi dan biota endemik. Beberapa biota endemik yang jarang ditemukan di lautan lain seperti Ikan Coelacanth hidup di lautan yang diapit oleh Samudera Hindia dan Samudera Pasifik ini.

Namun, kondisi lautan Indonesia kini sedang dalam kondisi kritis. Berdasarkan studi yang telah dilakukan LIPI, sekitar 7,1 hektar terumbu karang sudah dimonitor, namun hasilnya tidak terlalu baik. Kondisi serupa juga terjadi pada biota lain seperti ikan. Dari riset dan budidaya biota lautĀ  terhadap 10 spesies hiu, ikan capungan, ikan napoleon, dan teripang, ditemukan bahwa spesies tersebut berada dalam kondisi terancam akibat overeksploitasi.

Ancaman terhadap populasi ikan, juga tergambarkan dalam film Seaspiracy pada kasus yang terjadi di belahan dunia lain. Melalui penelusuran Ali dalam FilmĀ  ini, telah ditemukan overeksplotasi atau ekploitasi terhadap tuna sirip biru yang membuat ikan jenis ini dalam bahaya kepunahan. Di pelabuhan KII-Katura tempat Ali melakukan investigasi terhadap ekploitasi berlebih ini, ratusan tuna sirip biru didaratkan dan akan dikirim ke seluruh penjuru dunia dengan harga per satu ekornya mencapai 3 juta dolar.

Apa yang ditemukan oleh Ali juga ditemukan oleh The Guardian. Dalam laporan yang berjudul Overfishing puts $42bn tuna industry at risk of collapse yang dipublikasikan pada 2 Mei 2016, industri tuna di Jepang telah menghasilkan 42 miliar dollar dari hasil penjualan tuna ke seluruh dunia. Overeksploitasi ini menyebabkan populasi tuna sirip biru di seluruh lautan hanya tersisa 3%.

Kondisi penurunan populasi di satu sisi, telah menyebabkan overpopulasi di sisi lain. Akibatnya, proses regenerasi suatu biota, baik itu predator maupun mangsa, akan menjadi terganggu dan terhambat. Lambat laun hal ini akan berujung kepada rusaknya ekosistem lautan.

Limbah cair dan padat yang dibuang ke laut juga memiliki dampak dan resiko yang tak kalah merusaknya bagi laut. Tempat yang seharusnya menjadi habitat bagi ribuaan jenis biota yang berkontribusi terhadap kehidupan di bumi ini, justru semakin tidak layak dihuni. Mikroplastik, plastik dan tumpahan minyak adalah beberapa jenis limbah yang selama ini sedang mempercepat degradasi habitat biota laut seperti ikan.

Teluk Jakarta, misalnya, merupakan contoh degradasi habitat dan perubahan lingkungan yang paling baik. Limbah cair maupun padat yang berasal dari industry dan rumah tangga, adanya kegiatan reklamasi, tingginya tingkat sedimentasi akibat perubahan lahan pertanian untuk pemukiman dan perkotaan, ceceran minyak dan air buangan ballast dari akitivitas pelabuhan serta transportasi laut telah menyebabkan jenis karang dari suku Acropiridae, hanya tersisa 13 jenis. Kondisi ini tentu akan berakibat kepada hilangnya jenis-jenis ikan yang hanya dapat hidup di sekitaran terumbu karang dalam suku Acropiridae.

Nah penjaga laut, itu tadi adalah ancaman terhadap ikan di lautan Indonesia. Ada beragam faktor yang menyebabkan populasi ikan dalam kondisi bahaya. Jika banyak faktor tadi terus berangsur-angsur dibiarkan terjadi, apa tersisa di laut kita ini?

Sumber:

https://www.theguardian.com/sustainable-business/2016/may/02/overfishing-42bn-tuna-industry-risk-collapse

https://sains.kompas.com/read/2019/04/22/190500423/kesehatan-laut-indonesia-diperiksa-bagaimana-kondisinya-saat-ini-?page=all

Suharsono. 2014. Biodiversitas Biota Laut Indonesia. Indonesian Institute of Sciences (LIPI) Pusat Penelitian Oseanografi. Jakarta.

No Comments

Post A Comment