Coelacanth: Fosil Hidup Yang Bertahan Menghdapai Perubahan Alam dan Ancaman Kepunahan

Coelacanth: Fosil Hidup Yang Bertahan Menghdapai Perubahan Alam dan Ancaman Kepunahan

Penjaga Laut, sesepuh penghuni laut dalam ini tampak renta dan menghabiskan hampir seluruh waktu hidupnya untuk berdiam diri. Namun, fosil hidup yang umurnya lebih tua dari Dinosaurus ini, cukup perkasa menghadapi perubahan kondisi alam selama kurun waktu 375 tahun. Kamu bisa memanggilnya ikan Coelacanth atau Latimeria Menadoensis.

Coelacanth hidup di wilayah vulkanik dengan suhu antara 16-200 Celcius. Ikan yang telah mengalami beberapa kali evolusi dari ikan, reptil, amphibi hingga mamalia ini hanya ditemukan di perairan dekat Komoro, Afrika Selatan dan Sulawesi Utara, Indonesia. Namun, pada tahun 2010, Coelacanth juga ditemukan ditemukan juga di Pulau Biak, Papua pada kedalaman sekitar 150 meter. Ikan ini juga diperkirakan tersebar di Laut Selatan Jawa, Laut Karibia, Teluk Meksiko, Laut Cina selatan dan Laut Andaman.

Lokasi-lokasi tersebut diperkirakan mempunyai kondisi lingkungan yang memungkinkan ikan ini dapat bertahan hidup. Coelacanth bertahan hidup dengan memakan ikan-ikan kecil yang berenang disektaran gua-gua kecil di malam hari. Kebutuhan makanan ikan ini tergolong rendah. Hal ini dikarenakan bentuk insang ikan ini mempunyai rasio antara permukaan insang dan massa tubuh sangat rendah yaitu hanya 17,1 mm2/g (Farwell, dikutip dalam Suharsono, 2014). Bentuk insang berasio rendah ini, juga berimplikasi kepada kebutuhan oksigen dan metabolisme dari ikan ini yang rendah. Akibatnya Coelacanth bergerak lambat dan banyak menghabiskan waktu hidupnya untuk berdiam.

Meski kebutuhan asupan makanan yang rendah, ukuran ikan ini cukup besar.  Ikan Coelacanth dewasa dapat mencapai ukuran lebih dari 98 kg dan panjang dapat mencapai dua meter. Sedangkan anakan yang dilahirkan dapat mencapai ukuran panjang 32 cm (Woodruff, dikutip dalam Suharsono, 2014).

Ciri dari evolusi ikan ini, tampak dari bentuk sirip punggung dan sirip perut yang masih terlihat sebagai alat untuk berjalan dari pada alat untuk berenang. Ciri seperti kaki pada reptil juga nampak pada posisi anus dan alat reproduksi berada di tengah-tengah antara sirip perut. Tak hanya itu, ikan Coelacanth juga memiliki sirip tambahan pada sirip ekor yang terkesan seperti ujung ekor dengan bentuk seperti anak panah. Sirip seperti ini tidak dijumpai pada ikan-ikan lainnya.

Meski Coelacanth mampu bertahan dari perubahan kondisi alam dan bahkan berevolusi, ikan ini nyatanya dalam ancaman kepunahan. Selain dipengaruhi karena kondisi laut sebagai habitatnya yang semakin mengkhawatirkan, proses reproduksi yang tergolong lambat semakin memposisikan Coelacanth sebagai ikan yang terancam keberadaannya.

Masa pengeraman telur ikan Coelacanth cukup lama. Setidaknya, dibutuhkan waktu satu tahun untuk induk mengerami terlurnya hingga siap untuk dilahirkan. Jumlah terlurnya pun relatif sedikit. Dari satu kali proses reproduksi, Ikan Coelacanth hanya mampu menghasilkan telur sebanyak 24 buah.

Untuk itu, sejak tahun 2005, ikan yang bernama latin Latimeria Menadoensis ini telah masuk dalam appendik I CITES dan oleh pemerintah Indonesia melalui menteri kehutanan ditetapkan sebagai satwa yang dilindungi.

Nah, penjaga laut, itu tadi Ikan Coelacanth, fosil hidup yang kini berada dalam bahaya kepunahan. Kamu tentu tak menginginkan jika salah satu biota istimewa yang hidup di laut kita ini punah kan? Mari sama-sama jaga laut agar satwa ini tetap bisa berenang bebas di laut kita!

Sumber:

Suharsono. 2014. Biodiversitas Biota Laut Indonesia. Indonesian Institute of Sciences (LIPI) Pusat Penelitian Oseanografi. Jakarta.

 

Tags:
,
No Comments

Post A Comment