Es Mencair Nun Jauh Di Kutub, Kenapa Indonesia Harus Waspada?

Es Mencair Nun Jauh Di Kutub, Kenapa Indonesia Harus Waspada?

Mencairnya lapisan es di kutub, bukan lagi menjadi isapan jempol belaka. Dampak dari meningkatnya emisi karbon di Bumi seperti ini patut diwaspadai. Sebab, meskipun terjadi di 11.350 Km jauhnya dari Indonesia, fenomena ini akan mendatangkan bencana sosial-ekologis bagi jutaan jiwa di Indonesia.

Wilayah Pesisir Indonesia akan Terendam

Salah satu yang terjadi ketika es di kutub mencair adalah naiknya permukaan air laut. Berdasarkan dari data Jurnal Geoid (2019) sejak tahun 1993-2018, laju kenaikan permukaan air laut di Indonesia menyentuh angka +4,5 mm/tahun dan diprediksi terus naik per tahunnya. Sedangkan LIPI (2019) memperkirakan kenaikan permukaan air laut di Indonesia mencapai antara 25 hingga 50 cm pada 2050.  Banyak kota pesisir di Indonesia yang terancam terendam atau bahkan tenggelam. 

Pada tahun 2013, National Geographic meluncurkan peta prediksi perubahan garis pantai dunia bila kita tak segera mengendalikan emisi karbon. Daratan di berbagai belahan Bumi mengalami perubahan signifikan. Di Indonesia, ribuan pulau kecil tenggelam, dan pulau-pulau besar seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Papua kehilangan luas daratannya dalam jumlah yang besar. 

Artinya, akan banyak sekali penduduk Indonesia yang harus mengungsi dari tempat tinggalnya. Pantai-pantai indah tujuan wisata bisa jadi tinggal kenangan. Lalu, sektor perekonomian pesisir yang turut menyumbang GDP akan terdampak, dan banyak penduduk Indonesia yang akan terperosok ke dalam jurang kemiskinan yang lebih dalam.

Biodiversitas Laut Indonesia Terancam

Melelehnya es di kutub Bumi juga mengancam keanekaragaman hayati laut Indonesia. Terumbu karang yang merupakan aspek kunci dalam ekosistem laut akan terdampak. Biota laut yang hidup di habitat terumbu karang akan terganggu. Di lain sisi, naiknya permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub juga akan berdampak pada rumput laut dan bakau. Rusaknya kedua aspek tersebut akan melemahkan kemampuan ekosistem pesisir untuk menyerap karbon. Selain itu, rusaknya bakau yang merupakan area pemijahan berbagai biota laut tentu akan berdampak pada keberlangsungan biota tersebut. Padahal, Indonesia memiliki ekosistem rumput laut terbesar se-Asia Tenggara, dan merupakan rumah bagi 23% hutan bakau dunia.

Rusaknya ekosistem pesisir dan terganggunya biodiversitas laut Indonesia tentu akan berdampak pada jumlah tangkapan nelayan. Akibatnya, pendapatan nelayan akan turun dan memicu peralihan profesi. Data Badan Pusat Statistik (2020), menunjukan bahwa jumlah rumah tangga perikanan (perikanan tangkap dan laut) menyusut sekitar 0,85 juta selama 18 tahun dari 2,49 juta pada 2018. Lalu, apa jadinya Indonesia tanpa nelayan? Apakah kita masih akan bisa menikmati sajian ikan? 

Penjaga Laut, jarak tak akan menihilkan dampak. Meski mencairnya es di kutub, tapi bencananya juga akan sampai Indonesia.

Sumber :

How Melting Ice In Antarctica Affects Indonesia: IPCC Scientist Explains. 2019. The Conversation

Naiknya Permukaan Laut Jadi Ancaman Serius Masyarakat Pesisir, lipi.go.id, 2019

Statistik Sumber Daya Laut dan Pesisir 2020, BPS.go.id, 2020

What the World Would Look Like if All the Ice Melted. 2013. National Geographic

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.