Hiu: Garang di Film, Terancam Punah di Alam

Hiu: Garang di Film, Terancam Punah di Alam

Bertubuh besar, bergerigi tajam, hiu kerap digambarkan sebagai monster yang menyerang manusia. Nyatanya, manusialah yang memburu hiu habis-habisan.

Hewan yang satu ini cukup tenar dikalangan para penikmat film fiksi bergenre thriller. Sebut saja ‘Jaws, Deep Blue Sea’ hingga yang paling teranyar ‘47 Meters Down: Uncaged’, semuanya menampilkan Hiu sebagai ancamanan bagi kehidupan umat manusia. Namun, cerita itu hanya ada di film. Si so-called monster itu nyatanya justru jadi korban perburuan oleh manusia.

Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Nature menghitung populasi hiu dan pari dari tahun 1970 hingga 2018, dan menemukan populasi keduanya turun hingga 71,1 persen. Reproduksi hiu berlangsung lambat, sebagian   besar   ikan   hiu   membutuhkan waktu   enam   sampai   delapan   belas   tahun   atau lebih  untuk  mencapai  dewasa (Worm et  al., 2013). Jadi, perburuan besar-besaran sangat mengancam keberlangsungannya.

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menyebutkan setidaknya 1.145.087 ton produk hiu diperdagangkan secara global setiap tahunnya. Di kota pelabuhan Pointe-Noire, Kongo, Afrika Tengah, sekelompok pemerhati satwa liar pada 2019, menemukan  bahwa para nelayan lokal sering kali membawa 400 sampai 1.000 ekor hiu dan pari yang tersangkut jaring mereka ke darat.

Yang jauh lebih memalukan sekaligus mengenaskan, pada 2012, Indonesia menjadi negara peringkat teratas dari 20 negara penangkap hiu terbesar di dunia. Bahkan, tahun lalu, permintaan konsumsi sirip hiu di Jakarta tercatat mencapai dua ton per tahun. Daging ikan hiu, bahkan yang masih bayi, banyak diperjualbelikan di pasar ikan, seperti di Muara Angke dan Cilincing, Jakarta Utara. Daging hiu dijual dengan kisaran harga 30 ribu rupiah per kilogramnya, harga yang teramat murah untuk ongkos kerusakan lingkungan yang tersembunyi. Bagian tubuh hiu yang paling diburu adalah siripnya, dan seringkali  untuk pasar ekspor seperti ke Tiongkok dan Taiwan.

Selain menghadapi ancaman perburuan, kerusakan habitat hiu juga menjadi pendorong turunnya angka populasi. Terumbu karang, padang lamun dan mangrove sebagai habitat asuhan bagi sejumlah hiu kini sedang terancam akibat krisis iklim dan ulah manusia. Di Indonesia, luas habitat asuhan bagi hewan laut ini relatif rendah dan masih belum memadai upaya perlindungannya.

Tingginya ancaman pada keberlangsungan hiu membuat International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan 12 dari 73 spesies hiu berstatus sangat terancam, termasuk hiu koboi (Carcharhinus longimanus) yang hidup di perairan Indonesia dan ditemukan diperdagangkan di pasar ikan. Kemudian, 14 spesies berstatus terancam, sedangkan sisanya dalam kategori rentan.

Padahal, sebagai salah satu spesies yang berada di puncak piramida rantai makanan, hiu memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Ikan dengan kerangka tulang rawan ini memangsa ikan-ikan yang lebih kecil, tetapi ia tak asal memilih mangsa. Hiu akan memangsa ikan yang sakit atau tua dan lemah, agar tak menular ke ikan lainnya. Kebiasaan ini yang kemudian menjadi dasar julukan “dokter laut” bagi hiu.

Apabila si “dokter” ini punah, tak hanya akan mendorong penyebaran penyakit antar ikan, tetapi juga menyebabkan ledakan populasi ikan kecil yang berada setingkat di bawahnya dalam rantai makanan, seperti tuna dan kerapu. Bila populasi tuna dan kerapu kacau, maka populasi mangsa mereka pun akan habis dalam waktu singkat. Ujung ceritanya pun dapat ditebak, ketiadaan makanan pada akhirnya akan menyebabkan tuna dan kerapu punah. Singkatnya, keseimbangan ekosistem laut telah rusak. Nasib manusia pun menjadi taruhan selanjutnya.

Sumber :

[1] https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210204094350-199-602111/populasi-hiu-dan-pari-turun-drastis

[2] Imanuel et. al. 2018. Persepsi Nelayan Terhadap Status Konservasi Hiu dan Pengaruhnya Terhadap Penangkapan Hiu:Studi Kasus di Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Journal of Marine and Aquatic Sciences 4(2), 244-252. https://ojs.unud.ac.id/index.php/jmas/article/download/35425/21381 Maret 2021

[3] https://www.republika.co.id/berita/nq734j/indonesia-teratas-dalam-perburuan-hiu

[4]https://www.kompas.com/global/read/2021/02/16/093634670/ditangkap-diawetkan-dan-dijual-populasi-hiu-di-kongo-kian-terancam?page=all

[5]https://teknologi.bisnis.com/read/20200515/84/1240859/konsumsi-sirip-hiu-di-jakarta-2-ton-per-tahun-wwf-desak-hentikan-konsumsi-hiu

[6]https://news.detik.com/berita/d-4426937/hiu-hiu-anakan-dijual-di-muara-angke-bagaimana-nasibnya-di-lautan

[7] https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42935611

[8] Wisesa et. al. 2018. Studi  Habitat  Penting  Hiu  Dalam  Tiga  Kawasan“Map  For  Sharks”Di  Indonesia. Prosiding Simposium Nasional Hiu Pari Indonesia Ke-2 Tahun. Hal 119-127. http://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/prosidingprp/article/view/7543/6080 Maret 2021.

 

No Comments

Post A Comment