Kisah Duyung dari Nusantara

Kisah Duyung dari Nusantara

Bagi masyarakat barat duyung digambarkan sebagai seorang puteri muda. Di Nusantara, duyung dianggap sebagai jelmaan seorang ibu. Menyakiti duyung berarti menyakiti ibu.

Kebanyakan orang mengenal duyung melalui animasi garapan Disney yang menggambarkannya sebagai puteri muda cantik berambut panjang berwarna merah anak dari Raja Triton dan Ratu Athena yang menguasai samudera. Ariel, si duyung dalam animasi Disney, memiliki karakter penyayang yang tulus. Ia mengorbankan hidupnya sebagai puteri di samudera untuk mengejar cintanya kepada makhluk daratan.

Senada dengan ketulusan Ariel, duyung dalam cerita rakyat Nusantara juga digambarkan sebagai makhluk yang penyayang. Salah satunya oleh masyarakat Buton melalui cerita rakyat Tulana Wandiu-diu. Dalam cerita tersebut, duyung atau dugong konon adalah jelmaan seorang ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya. Masyarakat Bajo di wilayah Gorontalo juga memiliki keyakinan serupa. Mereka percaya bahwa duyung adalah saudara bagi masyarakat Buton dan merupakan jelmaan dari seorang ibu. Oleh karena itu, menyakiti duyung ibarat menyakiti seorang ibu.

Keyakinan masyarakat Nusantara tampaknya dilatarbelakangi salah satunya anatomi fisik dugong dan kebiasaan pengasuhan si induk. Bentuk ekor dan sirip dugong dianggap menyerupai kaki dan tangan manusia. Kemudian, sebagai mamalia laut, dugong betina juga memiliki puting susu untuk menyusui anaknya. Perilaku induk dugong pun layaknya seorang ibu manusia. Setelah mengandung selama 13-14 bulan, induk duyung berenang ke perairan dangkal untuk melahirkan dengan harapan aman dari predator alamiahnya. Walaupun ironinya, perilaku ini kerap membuat dugong dengan mudah diburu oleh manusia.

Induk dugong biasanya hanya melahirkan satu ekor bayi setiap periode kehamilan. Bayi dugong yang baru lahir bobotnya mencapai 27-35 kilogram dengan panjang lebih dari satu meter. Sesaat setelah lahir, bayi dugong akan diangkat oleh si induk ke permukaan untuk menghirup napas pertamanya, dan sejak saat itulah keakraban antara induk dan anak dugong terjalin. Seperti bayi mamalia lainnya, bayi dugong memperoleh gizi dengan menyusu pada induknya, tetapi induk juga mengajarkannya cara memakan lamun. Sifat melindungi yang dimiliki induk dugong ini menjadi latar alasan setiap penemuan anak dugong tak jauh dari lokasinya akan ditemukan pula induk dugong. Bahkan bila seekor anak dugong tertangkap, si induk kerap berenang-renang di sekitar lokasi tersebut, seolah menunggu dan mengkhawatirkan anaknya. Perilaku ini mempermudah para pemburu untuk menangkap dugong dewasa.

Perkembang biakan dugong yang lambat dan banyaknya ancaman membuat populasi hewan ini terus menurun. Di Indonesia hewan ini dilindungi dengan PP no. 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan & Satwa. Selain itu, kearifan lokal seperti kepercayaan masyarakat Buton tersebut juga turut membantu perlindungan populasi dugong.Dikutip dari greeners.co (2020), populasi dugong di Buton masih cukup banyak ketimbang daerah lain. Sebab, masyarakat Buton melindungi dan menghormati biota lain yang diyakini sebagai jelmaan seorang ibu.

Penjaga Laut, apa jadinya perairan Ibu Pertiwi tanpa mamalia jelmaan ibu ini? Ia berperan penting dalam siklus nutrisi di laut. Kotoran dari hewan pemakan lamun ini juga menjadi pupuk yang menyuburkan lamun si blue carbon, yang menyerap karbon penyebab perubahan iklim. Yuk, kita jaga laut dan sayangi duyung! #AkuJagaLaut

Sumber :

Cerita Rakyat Buton dan Muna di Sulawesi Tenggara, repositori.kemendikbud.go.id, 1998

Dugong Bukan Putri Duyung, oseanografi.go.id, 2015

Dugong, Hewan Laut Legendaris yang Terancam Punah, greeners.co, 28 Desember 2020.

https://animaldiversity.org/accounts/Dugong_dugon/

 

No Comments

Post A Comment