Mermaid Down (2019) : Potret Kelam Perburuan Dugong

Mermaid Down (2019) : Potret Kelam Perburuan Dugong

“Manusia dengan agresif mencuri spesies kami secara turun-temurun,” ujar putri duyung menggunakan bahasa isyarat pada Sandra dalam adegan film mermaid down (2019).

Film bergenre fantasi horor yang dibintangi oleh Alexandra Bokova ini menceritakan nasib pahit seorang putri duyung yang tercerabut dari habitatnya di Samudera Pasifik. Ia terperangkap jala yang dipasang oleh dua nelayan yang telah lama meyakini keberadaan putri duyung dan berupaya untuk menangkapnya. Kedua nelayan paruh baya bersikeras memburu duyung karena mereka percaya makhluk tersebut bernilai besar. Mereka ingin menjual bagian-bagian tubuh duyung untuk jutaan dolar, mirip dengan tragedi nyata tentang yang hiu-hiu ditangkap hanya untuk dimutilasi sirip dan ekornya yang bernilai tinggi.

Singkat cerita, setelah berhari-hari terombang-ambing di laut, trawl para nelayang tersebut akhirnya berhasil menjaring putri duyung. Makhluk setengah manusia tersebut berupaya melarikan diri. Salah seorang nelayang yang sangat kesal berupaya menghentikan si putri duyung namun peluru justru mengenai rekannya dan berujung kematian. Kesal, si nelayan tersebut memotong ekor putri duyung. dr. Bayer, seorang psikiatri, yang sedari awal menyaksikan dari jauh dua orang nelayan menangkap putri duyung, menyusup ke kapal tersebut. Setelah kepergok, dr. Bayer berupaya negosiasi barter dengan si nelayan sebelum akhirnya ia dibunuh.

Bayer kemudian pergi membawa putri duyung kemudian menyekapnya di gedung institusi kejiwaan miliknya untuk diobservasi lebih lanjut. Selama proses penyekapan di kamar yang lebih mirip sel mengerikan tersebut, seorang kepala perawat menyadari bahwa si putri duyung dapat berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Dengan bantuan seorang penerjemah yang dibawa oleh kepala perawat, putri duyung menjelaskan bahwa spesies sepertinya akan mati bila terlalu lama berada di daratan. Adegan ini nampaknya menyiratkan bahwa berbagai hewan dilindungi yang disekap di daratan untuk berbagai alasan, seperti sirkus dan hiburan lain, sedang tidak baik-baik saja. Mereka merasakan sakit dan tak seharusnya berada jauh dari rumahnya, lautan.

Seiring berjalannya waktu, ekor duyung kembali tumbuh dan ia berupaya melarikan diri dengan kursi roda. Namun, dr. Bayer memergokinya, kemudian dengan kesal ia membawa si duyung ke ruang rahasia di kapalnya untuk pembedahan. Sarah, kepala perawat, yang sedari awal mengejar dr. Bayer berhasil menemukan ruang rahasia tersebut, dan melihat banyak foto pembedahan ilegal yang dilakukan oleh dr. Bayer. Penggalan momen ini mengingatkan bagaimana paus-paus yang dilindungi kerap diburu oleh Jepang secara komersial, yang sebelumnya selalu menggunakan alasan “penelitian ilmiah”.

Sebagaimana banyak negara memprotes tindakan Jepang atas perburuan paus tersebut, Sarah, juga berupaya menyelamatkan putri duyung dengan membawa senapan. Ia kemudian terlibat pergulatan sengit dengan dr. Bayer, dan sebuah letupan senapan menyebabkan kebocoran lambung kapal. Dalam situasi panik, Putri Duyung berhasil melarikan diri dari kapal yang mulai tenggelam, begitu pula dengan Sarah dan pasien lainnya. Sedangkan dr. Bayer berusaha menyelamatkan diri, tetapi kemudian ditenggelamkan oleh Bu Susi, eh bukan, si Putri Duyung. Sebuah akhir cerita yang memuaskan, si makhluk laut kembali berenang bebas di lautan dan yang jahat memperoleh hukuman. Namun, bagaimana akhir kisah tragedi lautan yang sesungguhnya?

Dugong, Jelmaan Duyung yang Bernasib Sama Buruknya

Banyak yang meyakini bahwa sosok duyung yang kerap dikisahkan dalam cerita rakyat sebetulnya adalah hewan dugong (Dugong dugon). Bentuknya mungkin tak persis seperti yang digambarkan dalam cerita, tapi nasibnya kurang lebih sama.

Mamalia pemalu ini juga diburun untuk diambil dagingnya. Akibatnya, populasinya terus menurun. Dikutip dari Mongabay Indonesia, populasi dugong di Indonesia diperkirakan sekitar 10.000 di tahun 1970-an, namun turun menjadi sekitar 1.000 pada 1994–sebuah kehilangan yang terlalu banyak. Selain perburuan, populasi dugong juga terancam akibat rusaknya habitat mereka, yaitu perairan dangkal yang cenderung berpasir dan ditumbuhi lamun, makanan favorit mereka.

Meski telah dinyatakan sebagai hewan dilindungi dalam  Peraturan Pemerintah no. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan & Satwa, nyatanya dugong diam-diam masih diburu hingga sekarang. Penjaga Laut, kita bukan Jeffrey Grellman, si penulis skenario Mermaid Down, tapi kita bersama-sama bisa menentukan akhir dari cerita malang jelmaan duyung ini. Ayo bergerak dan bergabung bersama Penjaga Laut Indonesia! #AkuJagaLaut

Sumber :

Film : Mermaid Down (2019), IMDb.com

Duyung, Mamalia Laut Yang Perlu Perhatian, Mongabay.co.id, 26 April 2015

https://mermaid.fandom.com/wiki/Mermaid_Down

No Comments

Post A Comment