Nelayan Kecil dan Tradisional Terhimpit Perubahan Iklim

Nelayan Kecil dan Tradisional Terhimpit Perubahan Iklim

Indonesia dikaruniai kekayaan bahari yang melimpah dari ujung barat hingga timur, tapi tak berarti semua nelayan dan masyarakat pesisirnya kaya. Data SUSENAS tahun 2017 justru membuktikan sebaliknya.

“Sebanyak 11,34% orang di sektor perikanan tergolong miskin, lebih tinggi dibandingkan sektor pelayanan restoran (5,56%), konstruksi bangunan (9,86%), serta pengelolaan sampah (9,62%),” Survey Sosio Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2017.

Dalam sektor perikanan, 90,5% dari total nelayan yang ada di Indonesia adalah nelayan dengan kapal berkapasitas 0-5 GT. Populasi nelayan kecil dan tradisional yang besar merupakan potensi besar bagi industri perikanan berkelanjutan Indonesia. Namun para nelayan kecil dan tradisional justru sedang di garis paling tepi pada jurang bencana panjang bernama krisis iklim.

Laju perubahan iklim yang cepat telah memperburuk frekuensi gelombang tinggi dan menyebabkan cuaca ekstrem. Kapal kecil tentu jauh lebih tak tahan terhadap terjangan gelombang besar. Akibatnya, pergi melaut jadi seolah bertaruh nyawa bagi nelayan dengan kapal kecil. Akhirnya, banyak yang memutuskan tak melaut yang berarti periuk nasi tak terisi, seperti yang kini tengah dihadapi nelayan kecil di Lebak, Banten. Gelombang tinggi di Samudera Hindia yang mencapai empat meter dengan kecepatan angin 15 knot mengancam keselamatan nelayan tradisional yang melaut dengan perahu kincang sepanjang 2,5 meter dan lebar satu meter dengan mesin tempel.[1] Cuaca ekstrem dan gelombang tinggi seperti ini tak hanya dihadapi nelayan Banten, nelayan Lamongan menyebut cuaca ekstrem sebagai musim baratan. Musim ini dulu mudah diperkirakan waktunya, namun kini sulit diprediksi akibat perubahan iklim.[2]

Melaut berbahaya, tinggal di rumah pun sama tak amannya. Selain cuaca ekstrem, masalah lain yang muncul dalam perubahan iklim adalah meningkatnya permukaan air laut. Duet maut ini adalah kombinasi mematikan untuk memporak-porandakan pemukiman nelayan kecil dan tradisional dan infrastruktur pesisir, seperti pelabuhan perikanan. Nusa Tenggara Timur yang porak-poranda diterjang badai seroja pada minggu lalu adalah contoh terkini bagaimana perubahan iklim mengancam keselamatan masyarakat pesisir. Badai tersebut bukan peringatan pertama, selama 2019 saja, terdapat 116 desa di NTT yang dihantam bencana gelombang pasang.[3]

Selama nelayan kecil terperangkap bencana dan tak dapat melaut, krisis iklim diam-diam menggerogoti stok ikan di lautan. Pada 2050, potensi perikanan tangkap di perairan tropis seperti Indonesia diprediksi turun hingga 40% akibat perubahan iklim.[4] Meningkatnya suhu dan tingkat keasaman air laut membuat organisme laut seperti udang, tiram, koral, dan bahkan zooplankton-yang merupakan dasar rantai makanan di lautan, kesulitan membentuk cangkangnya. Alhasil, seluruh jaring makanan berubah, dan dapat menimbulkan keretakan. Selain itu, perubahan iklim juga berdampak pada jangkauan distribusi, kebiasaan migrasi dan ukuran stok ikan pelagis[5] seperti tongkol dan cakalang. Pada akhirnya, nelayan kecil dan tradisional akan semakin sedikit jumlah tangkapannya.

Perubahan iklim benar-benar membuat nelayan kecil dan tradisional bagai telur di ujung tanduk. Ironisnya, rekam jejak aksi Indonesia dalam menekan laju perubahan iklim justru dalam kategori sangat tidak cukup[6]. Sebagai negara dimana 70% populasinya tinggal di area pesisir, komitmen Indonesia yang lemah dalam menekan laju perubahan iklim tentu berbahaya. Ratusan ribu nelayan kecil dan tradisional tak dapat melaut dengan tenang, rumahnya berpotensi diterjang bencana, dan stok ikan sumber penghidupannya terus berkurang, semuanya berakar pada perubahan iklim. Lalu alasan apalagi yang diperlukan oleh Indonesia untuk memperkuat komitmen penanganan perubahan iklim dan mendeklarasikan darurat iklim?

#AkuJagaLaut

Sumber:

[1]https://metro.tempo.co/read/1449433/gelombang-tinggi-di-samudera-hindia-bpbd-peringatkan-nelayan-lebak/full&view=ok

[2] https://www.mongabay.co.id/2020/12/13/akibat-cuaca-buruk-nelayan-berhenti-melaut/

[3] BPS. 2020. Statistik Sumber Daya Laut dan Pesisir

[4]https://www.msc.org/what-we-are-doing/oceans-at-risk/climate-change-and-fishing#:~:text=Climate%20change%20threatens%20fish%20stocks,potential%20seafood%20catch%20by%202050.

[5] https://climefish.eu/climate-change-and-impacts-on-fisheries/

[6] https://climateactiontracker.org/countries/indonesia/

No Comments

Post A Comment