Para Perempuan Penjaga Laut

Para Perempuan Penjaga Laut

Perempuan sering sekedar menjadi wajah fiksi dan mitos terkait laut, padahal mereka telah lama berkontribusi nyata dalam aksi menjaga laut.

Perempuan kerap menjadi wajah fiksi dan mitos terkait lautan, seperti Nyai Roro Kidul dan Princess Ariel. Namun ternyata keterlibatan perempuan dalam sektor kelautan ternyata lebih dari sekedar tokoh fiksi. Pada 2019, majalah Elle menobatkan 27 wanita sebagai pemimpin perubahan demi melindungi lingkungan, lima di antaranya fokus pada isu kelautan:

  1. Sylvia Earle, Phd

Ia adalah seorang pakar biologi kelautan dan merupakan salah satu penjaga laut yang paling tangguh. Rekam jejak perjuangannya melindungi lautan menjadi latar cerita film dokumenter Mission Blue yang dapat kamu saksikan di Netflix.

2. Emily Pidgeon, PhD

Ia memimpin pembentukan Blue Carbon Initiative, sebuah lembaga non-profit internasional yang bekerja memitigasi perubahan iklim dengan melindungi dan memulihkan ekosistem pesisir.

3. Jenna Jambeck, PhD

Namanya mungkin lebih familiar bagi warga Indonesia dibanding nama-nama sebelumnya, sebab penelitiannya mengungkap bahwa Indonesia merupakan negara peringkat kedua penyumbang sampah laut terbesar di dunia. Jambeck merupakan akademisi yang turut membangun Marine Debris Tracker, sebuah sistem terbuka yang memungkinkan pengguna melaporkan temuan sampah di pantai di seluruh penjuru dunia.

4. Kim Cobb, PhD

Ia adalah seorang profesor ilmu Bumi dan atmosfer di Georgia Institute of Technology dengan lebih dari 25.600 pengikut di Twitter. Ia menggunakan platformnya secara konsisten untuk menyebarkan informasi dari hasil risetnya, yang salah satu topiknya adalah terumbu karang.

5.  Ayana Elizabeth Johnson, PhD

Ia adalah pakar biologi kelautan yang mendirikan dan menjadi CEO dari Ocean Collectiv, sebuah firma konsultan yang mendukung bisnis yang fokus pada isu kelautan.

Tokoh-tokoh tadi terasa asing dan jauh bagi mu? Di Indonesia juga ada banyak Wonder Woman penjaga laut, salah satunya adalah Susan Herawati. Selama tiga tahun terakhir ia telah mengomandoi Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dalam mengelola sumber daya perikanan secara adil dan berkelanjutan. Suaranya lantang dalam persoalan kelautan dan kerap berdiri di baris paling depan membela nelayan kecil dan tradisional. Susan adalah contoh bahwa perempuan Indonesia memiliki kekuatan dan kontribusi besar pada upaya mewujudkan pengelolaan laut Indonesia yang berkelanjutan.

Wonder Woman Lain yang Tak Populer

Di Indonesia, banyak perempuan-perempuan hebat penjaga laut yang mungkin namanya belum pernah kamu dengar, seperti bu Sarinah, seorang perempuan pesisir yang berjuang mempertahankan ekosistem pesisir di Kodingareng tempat ia menggantungkan hidup. Bu Sarinah dan banyak ibu-ibu lain di kelompoknya selama beberapa tahun terakhir terus menyuarakan penolakannya terhadap pengerukan pasir di Pulau Kodingareng di Kota Makassar. Aktivitas penambangan pasir yang mencapai kedalaman 30 meter tersebut telah merusak terumbu karang dan mengusir ikan-ikan. Akibatnya, ekosistem pesisir setempat rusak dan jumlah tangkapan nelayan turun. Sebelum penambangan pasir berlangsung, nelayan bisa menjaring 20 kilogram cumi-cumi atau lebih dari 20 ekor ikan tenggiri setiap berlayar. Kini perolehan anjlok hingga hanya 1 kilogram ikan. Bu Sarinah dan ibu-ibu lainnya tak berpangku tangan menerima dampak perusakan lingkungan tersebut, mereka aktif berjuang mulai dari turun ke jalan hingga berupaya menemui Gubernur Sulawesi Selatan untuk berdialog. Yang terkini, bu Sarinah mewakili para perempuan Kodingareng lainnya menceritakan perlindungan ekosistem yang tengah mereka perjuangkan dalam diskusi tahunan Koalisi NGO untuk Perikanan dan Kelautan Berkelanjutan yang videonya dapat kamu simak di sini.

 

Perempuan Dalam Industri Kelautan dan Perikanan

Bila ingin menjaga laut maka penting untuk memberdayakan perempuan, karena berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO) setengah dari total pekerja sektor makanan bahari merupakan perempuan. Keterlibatan perempuan dalam sektor perikanan sebetulnya tersebar mulai dari proses penangkapan hingga pengolahan, distribusi, dan pemasaran.

Masih berdasarkan laporan FAO yang sama, dalam rerata, 47 persen dari 120 juta pekerja dalam sektor penangkapan ikan dan pasca-panen (penangkapan) adalah perempuan. Bahkan dalam perikanan budidaya, secara global 70 persen pekerjanya merupakan perempuan, untuk Indonesia sendiri proporsinya hampir setengah, yaitu 48%. Secara khusus, perempuan telah menjadi tumpuan utama pada sektor perikanan budidaya skala kecil. Peran para pekerja perempuan sektor perikanan budidaya tersebar di sepanjang rantai proses. Dalam rantai proses lebih lanjut, seperti pengolahan, proporsi pekerja perempuan mencapai 90 persen.

Besarnya jumlah pekerja perempuan dalam sektor kelautan dan perikanan tak lantas memberikan mereka ruang yang cukup dalam pengambilan keputusan terkait. Selain itu, perempuan nelayan dan pesisir masih mengalami berbagai diskriminasi, mulai dari aktivitas mereka menangkap ikan di kawasan pesisir yang tak dianggap sebagai nelayan, sebuah istilah yang dianggap hanya mengacu pada aktivitas menangkap ikan dengan kapal, hingga sulitnya izin kepemilikan kapal oleh perempuan di beberapa negara. Padahal, Bu Sarinah, Susan Herawati, dan para perempuan cerdas yang terpampang di majalah Elle telah membuktikan bahwa perempuan telah lama menjadi bagian perlindungan laut. Mereka lebih dari sekedar layak untuk menjadi Penjaga Laut.

Sumber :

[Fakta atau Hoaks] Benarkah Nelayan Kodingareng Dimanfaatkan Walhi untuk Tolak Tambang Pasir di Sulsel?, Tempo.co, 25 September 2020.

Hyland, V., Rougeaou, N., & Vadnal, J. (2021). These 27 Women Are Leading the Charge to Protect Our Environment. Retrieved 6 March 2021, from https://www.elle.com/culture/a27733802/women-in-conservation-list/

Koral Outlook 202o : Kinerja KKP, UU Cipta Kerja, ABK Indonesia, dipublikasi channel youtube KORAL pada 8 Desember 2020.

Marie Christine Monfort, GLOBEFISH consultant. THE ROLE OF WOMEN IN THE SEAFOOD INDUSTRY. GLOBEFISH Research Programme, Vol. 119, Rome, FAO 2015

No Comments

Post A Comment