Pemanasan Global Menyebabkan Penyu Berpotensi Menjomblo

Pemanasan Global Menyebabkan Penyu Berpotensi Menjomblo

Pemanasan global telah menyebabkan ketidakseimbangan proporsi jenis kelamin penyu, karena jenis kelamin mereka ditentukan oleh suhu selama proses pengeraman.  Padahal, penyu berkembangbiak secara seksual.

Penjaga Laut, apa yang terjadi bila hampir seluruh penyu berjenis kelamin betina? Penyu tidak seperti cacing yang dapat membelah diri. Penyu berkembangbiak secara seksual, artinya memerlukan betina dan pejantan untuk menghasilkan telur. Kesenjangan yang terlalu besar antara jumlah pejantan dan betina dapat menurunkan jumlah populasi penyu, atau bahkan dalam jangka panjang berujung kepunahan.

Kabar buruk, National Geographic pada 16 Januari 2018 mewartakan bahwa kenaikan suhu Bumi telah membuat lebih dari 90% penyu hijau yang lahir di Great Barrier Reef berjenis kelamin betina. Hal tersebut terjadi karena jenis kelamin tukik penyu tidak ditentukan oleh kromosom seks (seperti yang terjadi pada manusia dan mamalia lain), melainkan oleh suhu inkubasi. Secara umum, telur penyu membutuhkan temperatur sekitar 29 derajat celcius untuk menghasilkan tukik dengan jenis kelamin yang relatif seimbang. Jika suhu selama proses inkubasi mencapai lebih dari 29 derajat celcius maka sebagian besar telur penyu akan menetas sebagai tukik betina, begitu pula sebaliknya.

Sementara itu, jurnal Global Change Biology yang dikutip oleh Kompas.com, mencatat sekitar 52 persen dari populasi penyu hijau di berbagai negara saat ini adalah betina. Namun bila laju pemanasan global masih secepat saat ini, proporsi penyu hijau betina diprediksi akan mencapai 76 persen hingga 93 persen pada akhir abad ini.  Rasio jenis kelamin yang ekstrem tentu akan memperkecil peluang individu penyu untuk berkembang biak. Pada akhirnya, spesies penyu yang sudah berstatus bahaya akan benar-benar punah, dan diikuti oleh spesies penyu lain yang kini dalam status rentan.

Penyu tidak sendiri, pemanasan global juga mengancam berbagai reptil lainnya, seperti beberapa spesies kadal, buaya dan tuatara. Berkebalikan dengan penyu, ketiga jenis reptil tersebut terancam mengalami maskulinisasi, karena telur-telur mereka yang terpapar suhu di atas suhu ideal akan menetas sebagai bayi pejantan. Baik feminisasi seperti yang terjadi pada penyu, atau maskulinisasi yang mengancam buaya, keduanya akan berujung pada kepunahan spesies.

Penjaga Laut, manusia tak hidup dalam ruang hampa, dan tak pula menjadi satu-satunya yang hidup di Bumi. Segala aktivitas dan pilihan kita terhubung dengan siklus semesta. Sumber energi yang menyalakan telepon genggam kita nyatanya berpengaruh pada suhu global, dan berdampak pada banyak spesies lain, salah satunya penyu. Let’s be a responsible human being! #AkuJagaLaut

Sumber :

Ketidakseimbangan Populasi Penyu Akibat Perubahan iklim, nationalgeographicgrid.id, 16 Januari 2018

What Does Climate Change Mean for Sea Turtles, theconversation.org, 23 Juni 2014.

Gara-gara perubahan iklim, Semua Penyu Akan Berkelamin Betina, Kompas.com, 20 Desember 2018.

 

No Comments

Post A Comment