Pemuda Sebagai Motor Gerakan Sosial dan Lingkungan

Pemuda Sebagai Motor Gerakan Sosial dan Lingkungan

Penjaga laut, apa jadinya jika Wikana, Darwin dan beberapa pemuda lainnya pada tanggal 16 Agustus 1945 batal melancarkan aksi penculikan terhadap tokoh-tokoh golongan tua seperti Soekarno dan Hatta di Rengasdengklok?

Mungkin hari proklmasi kemerdekaan Indonesia tidak akan diperingati tanggal 17 Agustus. Dan lahirnya bangsa ini, mungkin masih menunggu waktu yang lebih lama. Keterlibatan pemuda seperti Wikana dan Darwin dalam melahirkan peristiwa penting tersebut menandakan bahwa pemuda adalah motor dibalik sebuah gerakan menuju perubahan. Di berbagai negara, gerakan yang dimotori oleh pemuda ini muncul dalam berbagai platform dan isu yang berbeda berdasarkan situasi dan kondisi objektif di masing-masing wilayah.

Dalam gerakan anti-nuklir tahun 1960an misalnya, ada sekolompok pemuda yang kebanyakan dari mereka adalah seorang pelajar dan mahasiswa yang berasal dari kelas pekerja di Amerika Serikat. Situasi dan kondisi pada masa perang dingin memunculkan ketakutan dibenak banyak masyarakat di Amerika tentang ancaman nuklir yang berpotensi terjadi jika melihat persaingan senjata dengan Uni Soviet.

Keadaan perang dingin pada saat itu telah memposisikan masyarakat Amerika dalam situasi konflik. Simulasi-simulasi menghadapi ancaman bom nuklir dan aturan-aturan negara yang ketat menumbuhkan gejolak protes diberbagai negara bagian yang sala satunya dimotori oleh Student for a Democratic Society. SDS, terlibat dalam berbagai aksi protes dan kampanye anti-nuklir, anti-kapitalisme dan perdamaian.

Di samping keadaan ekonomi-politik perang dingin yang menimbulkan krisis saat itu, limbah-limbah pabrik yang memproduksi persenjataan perang telah melahirkan krisis ekologi pada saat itu. Perekonomian negara pasca perang, di mana sebelumnya hampir semua pendapatan negara dialokasikan untuk perang melahirkan krisis pangan dan memaksa negara-negara menggenjot produksi pangan dengan penggunaan bahan kimia berbahaya yang notabene digunakan juga untuk persenjataan. Rachel Carson pada tahun 1962 menulis buku “The silent Spring” (musim semi  yang sepi) yang melukiskan dunia yang sepi karena di tinggalkan penghuninya, baik manusia  atau hewan, mati karena zat tercemar. Di dalam bukunya menjelaskan tentang rusaknya lingkungan oleh pemakaian bahan kimia dalam pertanian membrantas hama dan mamakai pupuk kimia untuk menaikan produksi.

Akumulasi dari situasi dan kondisi tersebut kemudian memuncak pada tahun 1970 dan melahirkan gerakan lingkungan yang melibatkan lebih dari 20 Juta manusia turun ke jalan untuk menunjukkan kepedulian mereka terhadap lingkungan. Dari mereka yang terlibat pada aksi waktu itu, mayoritasnya adalah pemuda yang tercatat berasal dari 1.500 perguruan tinggi dan  dari 10.000. Momentum  itu kemudian di tetapkan sebagai Hari Bumi Internasional. Ide dan gagasan  tentang hari bumi yang di gagas Gaylorfd Nelson, untuk memberikan kesadaran bagi semua orang agar berusaha untuk menciptakan satu tatanan kehidupan yang lebih baik (well being).

Manuel Castell dalam “The Power of  Identity’ (1996) mengatakan, lahirnya pergerakan lingkungan merupakan counter dari munculnya beberapa korporasi yang dianggap telah menjadi penyebab utama terjadinya pencemar lingkungan. Gerakan lingkungan ini semakin menguat karena transformasi sistem produksi dan konsumsi yang dilakukan beberapa korporasi, telah berdampak pada lingkungan dan jauhnya berakibat pada masalah sosial, organisasi serta kehidupan pribadi warga.

Lima belas tahun setelahnya, tepatnya 15 tahun sejak aksi besar itu, Amerika Serikat gempar ketika beredar pemberitaan ditemukannya lubang pada lapisan ozon di Antartika pada 1985. Beberapa riset ilmuwan mengenai pemanasan global yang sebelumnya hanya menjadi tumpukan kertas, mulai diulas. Kongres AS pun menjadi saksi ketika seorang ilmuwan NASA, James Hansen, mengatakan bahwa ia yakin 99 persen, perubahan iklim sedang terjadi di depan mata dan kemungkinan besar dipicu oleh kegiatan manusia.

Perubahan iklim ini telah memicu kerusakan ekosistem di bumi, termasuk laut. Misalnya, emisi gas rumah kaca yang muncul akibat aktivitas manusia telah menyebabkan perubahan suhu di laut yang berdampak kepada kelangsungan hidup biota dan kenaikan muka air laut. Di Laut Indonesia, perubahan iklim telah memicu kerusakan pada terumbu karang. Kerusakan tersebut diakibatkan oleh pemutihan terumbu karang yang dipicu oleh perubahan suhu air laut. Hal senada juga diungkapkan oleh Imam Bahctiar dosen Biologi Universitas Mataram, di Selat Bali, Lombok dan Alas, pemutihan karang sudah pernah terjadi berkali-kali. Pemutihan karang di kawasan barat Coral Triangle Area (CTA) ini terjadi pada 1983, 1998, 2010 dan 2016. Keempat kali pemutihan karang ini menyebabkan kematian massal karang di Selat Lombok, terutama di Gili Matra (Meno, Air, Trawangan) dan Sekotong. Jarak antar siklus pemutihan karang dengan sangat cepat makin memendek, yaitu 15 tahun (1983-1998), 12 tahun (1998-2010), dan 6 tahun (2010-2016). Baru-baru ini, dari Maret April 2019, pemutihan karang kembali terjadi yang menyasar perairan selat Lombok.

Kondisi tersebut telah melahirkan kekhawatiran sejumlah pihak, termasuk kalangan aktivis yang diantaranya adalah pemuda. Beragam upaya untuk memulihkan terumbu karang lantas mulai gencar dilakukan diberbagai wilayah di Indonesia. Dengan memulihkan terumbu karang, diharapkan laut yang kini sedang dalam laju kerusakan dapat pulih.

Nah penjaga laut, alam upaya pemulihan ini, peran kamu sebagai pemuda sangat dibutuhkan sebagai generasi yang akan menghadapi ancaman perubahan iklim di masa depan. Kamu tentu tak menginginkan jika di masa depan laut laut yang kita cintai ini rusak bukan? Yuk mari sama-sama menjaga laut.

Sumber:

https://www.academia.edu/36357990/Subkultur_Hippie_Sebagai_Kontra_Hegemoni_Budaya_Dominan

https://www.academia.edu/36357990/Subkultur_Hippie_Sebagai_Kontra_Hegemoni_Budaya_Dominan

https://www.cnnindonesia.com/internasional/20151128130323-134-94617/sejarah-dunia-memerangi-perubahan-iklim

No Comments

Post A Comment