Penyu Banyak diburu, Ancaman Kepunahan Datang Kemudian

Penyu Banyak diburu, Ancaman Kepunahan Datang Kemudian

Penyu tidak membuat kerusakan di lautan. Ia tidak mencemari lingkungan, tidak melakukan perburuan terhadap manusia secara ugal-ugalan. Yang terjadi justru sebaliknya, penyu banyak diburu dan kini terancam punah karena ulah manusia.

Penjaga Laut, masih ingat dengan Crush, si penyu laut tua yang memberi Nemo tumpangan saat ia pingsan memasuki Arus Australia Timur? Ternyata, adegan itu tidak hanya ada dalam film Finding Nemo lho! Di lautan lepas, penyu laut benar-benar memberi tumpangan pada berbagai jenis hewan yang lebih kecil, seperti jenis crustacea kecil (udang) dan ikan remora. Saat berenang ke permukaan untuk mengambil napas, punggung penyu juga menjadi tempat singgah bagi burung-burung pemangsa ikan untuk transit sejenak. Selain itu, rumah dan tubuh penyu yang besar dan kuat juga menjadi “bunker” bagi para ikan kecil untuk berlindung dari predator. Sayangnya si “pelindung” ini justru terus-menerus diancam oleh predator paling mengerikan di Bumi, manusia.

Dari tujuh spesies penyu, International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengkategorikan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) yang hidup di perairan Indonesia, dan penyu Atlantik ridley (Lepidochelys kempii) sebagai spesies berstatus kritis. Sedangkan penyu hijau (Chelonia mydas) berstatus terancam, serta penyu tempayan (Caretta caretta), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea) berstatus rawan punah. Keempat spesies penyu tersebut juga hidup di laut Indonesia. Salah satu ancaman terbesar yang mendorong mereka ke jurang kepunahan adalah perburuan.

Perburuan Berlatar Mitos

Cerita pertama tentang perburuan penyu dimulai di Banyuwangi, Jawa Timur. Sebagaimana dilaporkan kbr.id pada 2016, populasi penyu di Banyuwangi hanya tersisa 20 hingga 30 persen dari 800 ekor. Berkurangnya populasi penyu tersebut akibat maraknya perburuan daging dan telur penyu. Telur penyu dapat dengan mudah dijumpai di pasar-pasar tradisional Banyuwangi sebagai barang dagangan.

Bergeser cukup jauh ke wilayah Indonesia Timur, tepatnya di Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku. Mengutip laporan Mongabay Indonesia, pada 2017 petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menangkap lima orang nelayan yang diketahui akan menjual 38 ekor penyu. Penyu yang dibawa dari Pulau Enu Bagian Tenggara tersebut enam ekor di antaranya telah mati dan 32 ekor sisanya yang berhasil diselamatkan kemudian dilepas liar ke laut oleh petugas. Beberapa ekor diantara penyu tersebut merupakan penyu sisik yang berstatus kritis, dan penyu hijau yang berstatus terancam punah. Perdagangan penyu di area ini didorong salah satunya oleh kebiasaan mengonsumsi daging dan telur penyu.

Dikutip dari kkp.go.id (2020), konsumsi masyarakat terhadap telur dan daging penyu menyebabkan populasi penyu turun secara drastis, mengancam kelestariannya, dan mendorong mereka ke ambang kepunahan. Kebiasaan mengonsumsi penyu salah satunya didorong oleh mitos bahwa telur dan daging penyu bisa meningkatkan vitalitas. Faktanya, terdapat berbagai jenis jamur dan kandungan logam berat pada penyu yang tentu berbahaya bagi kesehatan manusia. Bukan vitalitas, mengonsumsi penyu justru dapat meningkatkan risiko mengidap penyakit kanker dan tumor. Selain itu, daging penyu mengandung protein yang yang sulit dicerna oleh tubuh kita.

Telah Diburu Sejak Lama

Perdagangan penyu tak hanya terjadi di masa kini, bisnis jual beli penyu rupanya sudah terjadi sejak era kolonial pada medio 1600 an. M. Fazil Pamungkas mencatat riwayat bisnis penyu dengan sangat apik, melalui tulisannya yang berjudul Bisnis Penyu Tempo Dulu yang dimuat di Historia.id pada 16 Juli 2019, ia menyebut tempurung penyu dari Nusantara telah menjadi primadona bagi kekaisaran Tiongkok dan menjadi simbol hubungan baik antara pedagang dan kekaisaran. Selain menjadi aksesoris dan obat, orang-orang Tionghoa percaya bahwa penyu menjadi obat panjang umur dan kebahagian.

Pada periode 1650-1660, para pedagang Tionghoa menjadi pengatur proses jual beli penyu antara masyarakat sebagai pemburu, dengan orang Belanda sebagai pembeli.  Keduanya tidak boleh bertemu secara langsung. Transaksi harus dilakukan melalui kelompok pedagang Tionghoa. Hal itu ditengarai akibat persaingan dagang antara pedagang Tionghoa dan pedagang Belanda; pedagang Tionghoa tidak ingin kehilangan kendali atas monopoli penyu pada masa itu mengingat pedagang Belanda sebagai pendatang baru ingin mengambil alih pasar.

Meski berabad-abad telah terlewati perdagangan penyu masih tetap eksis kendati hewan bertempurung itu dilindungi dan berstatus terancam punah. Benang kusut perburuan penyu sudah kadung menjadi masalah ekonomi, sosial, dan budaya, namun tak berarti bisa diabaikan begitu saja. Banyak simpul keruwetan yang perlu segera diurai, sebelum penyu benar-benar lenyap dari Bumi.

Sumber :

Terus Diburu, Populasi Penyu Banyuwangi di Ambang Punah, Kbr.id, 25 Oktober 2016.

Kenapa Perdagangan Penyu Ilegal Masih terjadi di Indonesia Timur, Mongabay.co.id, 1 Maret 2017

Penyu di Anambas : Antara Konsumsi, Ekonomi, dan Konservasi, Kkp.go.id, 21 April 2020

Bisnis Penyu Tempo Dulu, Historia.id, 16 Juli 2019

 

No Comments

Post A Comment