Permukaan Air Laut Naik, Kehidupan Masyarakat Pesisir Tercabik

Permukaan Air Laut Naik, Kehidupan Masyarakat Pesisir Tercabik

Dampak naiknya permukaan air laut lebih dari sekedar statistik luas daratan yang terendam, sebab pesisir menjadi rumah bagi 70% penduduk Indonesia.

Tak ada yang meragukan bahwa bentuk negara kepulauan memberi banyak keuntungan bagi Indonesia. Karakter geografis ini membuat Nusantara tak hanya kaya akan budaya, tapi juga sumber daya alam. Tetapi, apa yang akan kita hadapi bila laju perubahan iklim tetap atau bahkan kian cepat?

Komitmen penurunan emisi karbon yang lemah menghantarkan bencana iklim lebih cepat ke depan pintu rumah kita. Ya, benar-benar ke depan pintu rumah kita!

 

Kalimantan Barat

Suwi, perempuan paruh baya yang tinggal di muara Sungai Kakap tepatnya di pesisir pantai Kalimantan Barat, tiap tahunnya harus berurusan dengan banjir laut. Dia menuturkan, kala itu banjir rob meluluhlantakkan rumah para warga. Meski pemerintah sempat menawarkan relokasi, namun Suwi dan sebagian warga lain memilih kembali ke rumah walaupun kondisinya sudah rusak.

Meski dihantui rob, Suwi enggan meninggalkan rumah, saksi perjuangan hidupnya, yang berjarak beberapa ratus meter saja dari bibir pantai. Dengan nada khawatir ia berkata, “Takut. Kami sudah merasa air besar. Tak usahlah kami dapat dua kali.”  

Suwi bukan satu-satunya orang yang terdampak kenaikan permukaan air laut. Syarief, salah watu warga Kampung Benteng yang terletak di pesisir Mempawah Kalimantan Barat mengungkapkan, sejak pertengahan tahun 1990an banjir rob sudah terjadi di kampungnya. Abrasi pun terjadi terus menerus dan mengubah garis pantai. Sama seperti Suwi, meski bencana mengancam ia tak dapat begitu saja meninggalkan kampungnya. Sebab, tempat itu adalah tempatnya mencari nafkah.

“Itu masalah pekerjaan, jadi pekerjaan kita hanya nelayan, nak pindah dari sini jauh dari pekerjaan rasanya ndak bisa kita ninggalkan,”ucapnya dengan logat Melayu.

Jawa Tengah

Kenaikan permukaan air laut tak hanya melanda Kalimantan Barat, masyarakat di utara Jawa Tengah juga merasakan kesengsaraan yang sama. Di Desa Bedono, Demak, Jawa Tengah, abrasi yang terjadi terus menerus akibat kenaikan air laut telah mengikis habis lahan pertanian dan lahan tambak milik warga. Warga setempat pun terpaksa angkat kaki dan beralih profesi. 

“Setelah kampung mereka menjadi lautan, akhirnya mereka satu demi satu pindah rumah dan pindah pekerjaan menjadi buruh pabrik, pekerja serabutan, dan sebagainya,” ujar Abdul Aziz, warga Desa Bedono.

Kengerian cerita ini belum berakhir. Menilik peta proyeksi kawasan permukaan air laut pada tahun 2050 yang disusun oleh Climate Central, Desa Bedono dan desa-desa di sekitarnya akan habis tenggelam.

***

Jangan keburu abai bila kamu merasa tak tinggal di pantai. Nyatanya, bencana iklim tak kenal batas administrasi. Sembari memporak-porandakan kehidupan di pesisir, krisis iklim mengancam stok pangan kita dan menimbulkan kekeringan di belahan Bumi lain. Tak ada undo button untuk bencana ini.

Penjaga laut, masih yakin jejak karbon mu tak berdampak pada orang lain?

 

Sumber :

Perubahan Iklim : Pesisir Indonesia terancam tenggelam, puluhan juta jiwa akan terdampak, BBB News Indonesia, 26 Maret 2020

Desa yang Terancam Tenggelam di Demak ini Semula Lumbung Padi, smol.id, 27 Juni 2020 

Badan Pusat Statistik. Statistik Sumber Daya Laut dan Pesisir 2020

No Comments

Post A Comment