Perubahan Iklim Memicu Kerusakan Terumbu Karang di Indonesia

Perubahan Iklim Memicu Kerusakan Terumbu Karang di Indonesia

Penjaga laut, kekayaan bahari yang dimiliki oleh Indonesia menyebabkan terumbu karang yang tersebar dari Sabang sampai Merauke ini disebut sebagai the amazon of the sea. KKP bahkan mengklaim, dari total terumbu karang yang ada di dunia, 69% terdapat di Indonesia. Namun, kondisi terumbu karang di Indonesia belakangan ini sedang tidak baik-baik saja. Juni 2020, Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Kementerian Bappenas Arifin Rudiyanto mengatakan hanya terdapat 30 persen dari total terumbu karang di Indonesia yang berada dalam kondisi baik. Sedangkan 37 persen lainnya dalam kondisi cukup baik dan sisanya rusak.

Kondisi ini juga diungkapkan oleh LIPI pada tahun 2017. Hasil riset lembaga tersebut pada tahun 2017 mengungkapkan hanya 6,39 persen terumbu karang dalam kondisi sangat baik. Sementara itu, terumbu karang yang dalam kondisi baik sebesar 23,40 persen, kondisi cukup sebesar 35,06 persen, dan kondisi buruk sebesar 35,15 persen. Hasil ini diambil dari 108 lokasi dan 1064 stasiun di seluruh perairan Indonesia. Dari paparan tersebut LIPI menyimpulkan, secara umum, terumbu karang dalam kategori baik dan cukup mengalami tren penurunan, namun sebaliknya kategori sangat baik dan jelek mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Faktor penyebab kerusakan akibat pemutihan terumbu karang menjadi salah satu yang dominan selain kerusakan akibat aktivitas destructive fishing. Pemutihan merupakan akibat dari cekaman (stress) sewaktu terjadi perubahan besar  pada  organisasi jaringan  dan  sitokimia dalam polip karang (Hayes & Goreau dalam Azhar, 2016). Hasil akhir dari proses ini menyebabkan koloni karang menjadi  putih, baik sebagian ataupun seluruh koloni.

Faktor penyebab pemutihan terumbu karang adalah perubahan suhu yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Perubahan iklim adalah perubahan pada suhu, curah hujan, pola angin dan berbagai efek-efek lain secara drastis. Terjadinya perubahan iklim juga bisa dilihat dari suhu rata-rata bumi yang meningkat sebesar 1,5 derajat farenheit dibandingkan beberapa abad lalu. Suhu ini diperkirakan akan naik lagi pada 100 tahun ke depan sebesar 0,5 sampai 8,6 derajat farenheit. Tahun 2016 adalah periode terhangat yang pernah tercatat. Data NASA dan NOAA menunjukkan bahwa rata-rata suhu global pada 2016 adalah 1,78 derajat fahrenheit (0,99 derajat celcius), lebih hangat daripada rata-rata suhu bumu saat pertengahan abad ke-20. Kenaikan suhu seperti ini bisa memicu iklim yang berbahaya bagi kelangsungan hidup penghuni bumi.

Perubahan suhu secara drastis di muka bumi, tercatat pernah memicu kerusakan terumbu karang terparah di dunia. Tahun   2005,   merupakan tahun  terpanas  yang  pernah  tercatat di  belahan bumi  utara.  Peningkatan  suhu  laut  di  Karibia memicu kejadian pemutihan karang yang parah, di  mana  95%  dari  seluruh  terumbu  karang  di daerah  ini  mengalami  pemutihan  (Reid et .al dalam Azhar, 2016).

Kejadian serupa pernah terjadi juga di perairan Indonesia. Tingginya   suhu   permukaan   laut   di Laut  Andaman  selama  bulan  Mei  (2010)  telah menyebakan     terjadinya     pemutihan     karang massal  di  seluruh  wilayah  tersebut.  Menurut situs  Coral  Reef  Watch NOAA,  suhu  permukaan laut  mencapai  puncaknya  pada  27  Mei  2010, yaitu  34 derajat Celcius  atau  4 derajat Celcisu   lebih  tinggi  dari  rata-rata selama  ini  pada  waktu  yang  sama.

Hal senada juga diungkapkan oleh Imam Bahctiar dosen Biologi Universitas Mataram, di Selat Bali, Lombok dan Alas, pemutihan karang sudah pernah terjadi berkali-kali. Pemutihan karang di kawasan barat Coral Triangle Area (CTA) ini terjadi pada 1983, 1998, 2010 dan 2016. Keempat kali pemutihan karang ini menyebabkan kematian massal karang di Selat Lombok, terutama di Gili Matra (Meno, Air, Trawangan) dan Sekotong. Jarak antar siklus pemutihan karang dengan sangat cepat makin memendek, yaitu 15 tahun (1983-1998), 12 tahun (1998-2010), dan 6 tahun (2010-2016). Baru-baru ini, dari Maret April 2019, pemutihan karang kembali terjadi yang menyasar perairan selat Lombok.

Pemutihan terumbu karang menyebabkan biota laut yang bereproduksi secara aseksual dan seksual ini tidak dapat menjalankan fungsinya secara normal. Padahal, karang merupakan tempat bertelur, memijah dan membesarkan berbagai biota yang hidup berasosiasi dengan karang. Ia juga merupakan filter air laut yang terbesar yang dapat membersihkan berbagai zat organik maupun anorganik.

Di Indonesia, terdapat 569 jenis dari 82 marga dan 15 suku dari total 845 jenis karang di dunia. Jumlah ini menjadikan negara kepulauan ini sebagai 569 jenis dari 82 marga dan 15 suku dari total 845 jenis karang di dunia. Selain memiliki peranan ekologis yang krusial, jumlah ini juga merupakan potensi bernilai ekonomis.

Hewan yang termasuk dalam filum coelenterata ini, dapat dimanfaatkan menjadi bahan obat-obatan dan kosmetika, kandungan S 320 yang ada di karang merupakan bahan anti sinar UV. Batu dan pasir yang berasal dari karang juga dapat dipakai sebagai bahan bangunan untuk pondasi rumah dan jalan. Namun, perlu diingat segala bentuk pemanfaatan terumbu karang ini haruslah memperhatikan kelestarian terumbu karang. Sebab, disamping perubahan iklim, eksploitasi terhadap terumbu karang menjadi penyebab biota laut yang satu ini dalam kondisi terancam.

Manfaat ekonomis tersebut serta peran ekologis yang dimiliki oleh terumbu karang nampaknya sudah cukup untuk menjelaskan bagagimana pentingnya terumbu karang bagi kelangsungan hidup di bumi. Apalagi, mengingat fakta bahwa laut adalah penyerap karbon terbesar di planet yang sedang dilanda perubahan iklim. Tentu, tak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak ikut terlibat dalam menjaga terumbu karang sebagai upaya mencegah laju perubahan iklim yang terjadi di planet tempay kita tinggal ini. Nah, penjaga laut, apalagi yang kamu tunggu? Mari sama-sama kita jaga kelestarian terumbu karang di laut kita!

 

Sumber:

https://kumparan.com/berita-hari-ini/5-fakta-unik-seputar-terumbu-karang-1uvjCemNXyH/full

Suharsono. 2014. Biodiversitas Biota Laut Indonesia. Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta

https://www.researchgate.net/publication/323309341

https://www.mongabay.co.id/2018/05/09/inilah-kondisi-beberapa-terumbu-karang-indonesia/

http://lipi.go.id/siaranpress/lipi:-status–terkiniterumbu-karang-indonesia-2018-/21410

http://lipi.go.id/siaranpress/lipi:-status–terkiniterumbu-karang-indonesia-2018-/21410

https://tirto.id/data-dan-fakta-tentang-perubahan-iklim-dalam-angka-fswE

https://tirto.id/data-dan-fakta-tentang-perubahan-iklim-dalam-angka-fswE

Azhar. Desember 2016. Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Terumbu Karang: Antara Dampak Dan Perannya Dalam Siklus Karbon. Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Kelautan, Perikanan,  Teknologi Informasi dan Komunikasi (LP3TK-KPTK).

http://jurnalsaintek.uinsby.ac.id

https://www.mongabay.co.id/2019/05/13/ketika-pemutihan-karang-terjadi-lagi-di-lombok/

 

No Comments

Post A Comment