Yang Perlu Diperhatikan Agar Budidaya Udang Tidak Mencemari Lingkungan

Yang Perlu Diperhatikan Agar Budidaya Udang Tidak Mencemari Lingkungan

Kandungan gizi dan rasanya yang lezat membuat udang menjadi salah satu makanan favorit dalam daftar makanan laut yang ditemukan diberbagai restoran. Udang merupakan komoditas penyumbang devisa terbesar kedua dari sektor perikanan setelah ekspor ikan tuna. Proses udang sampai dihadapan kita dalam bentuk sepiring sajian lezat, tak hanya diperoleh dari penangkapan di habitat aslinya. Udang kini juga bisa dihasilkan dari budidaya perairan. Salah satunya adalah tambak.

Tambak adalah salah satu jenis budidaya dengan kolam buatan yang biasanya ada dipesisir pantai yang diisi air dengan tingkat salinitas tertentu dan dimanfaatkan sebagai sarana budidaya perairan dalam hal ini budi daya udang. Budi daya tambak udang  mulai  berkembang  di  Indonesia  pada  tahun 1990an dimana pada saat itu nilai eksport udang tinggi karena dihargai menggunakan US$.

Jumlah permintaan udang dipasaran terus mengalami peningkatan. Hal ini ditunjukan dari peningkatanan luasan tambak yang ada di Indonesia. Data terakhir KKP (2015) menunjukan, luas budi daya tambak mengalami peningkatan 2,55% dari  tahun 2013-2014 yaitu tercatat sebesar 667.083 ha luas tahun 2014.

Namun, aktivitas budidaya udang seringkali memiliki dampak terhadap lingkungan. Alih fungsi lahan mangorve menjadi tambak dan limbah yang dihasilkan dari hasil budidaya seringkali menjadi penyebab kerusakan ekosistem di pesisir. Senada hal itu berdasarkan hasil penelitian Ilham et.al (2016) untuk dua dekade kedepan kerusakan ekosistem mangrove di Indonesia adalah akibat alih fungsi  lahan  menjadi lahan budidaya tambak udang sebagai penyebab utama jika dibandingkan dengan kegiatan lainnya seperti penebangan, pembangunan pesisir, perkebunan serta karena bencana alam.

Berkurangnya lahan atau degradasi lahan mangrove setidaknya menimbulkan beberapa dampak terhadap ekosistem pesisir diantaranya adalah; (1) terjadinya erosi garis pantai  dan  sempadan  sungai; (2) sedimentasi; (3) pencemaran; (4) perkurangnya fungsi ekologi dan secara langsung akan mempengaruhi fungsi ekonomi dengan berkurangnya jumlah tangkapan nelayan serta (5) terjadinya intrusi  air  laut. Implikasi pada sosial ekonomi adalah ketahanan pangan menjadi rawan  dan  tingginya perpindahan penduduk untuk mencari sumber mata pencaharian lainnya.

Namun, sekalipun pembuatan tambak tidak menggusur lahan mangrove, produksi sejumlah hara dan pergantian air pada proses budidaya memiliki dampak serius terhadap kelangsungan mangrove dan biota laut di sekitar pesisir. Ketika budidaya tambak udang beroperasi, beberapa komponen lingkungan akan terkena dampak adalah kandungan bahan organik, perubahan BOD, COD, DO, kecerahan air, jumlah fitoplankton maupun peningkatan virus dan bakteri. Hal ini dikarenakan pemberian input produksi yang besar sehingga terkadang limbah dari produksi budidaya tidak diolah terlebih namun langsung dibuang ke perairan.

Di tengah kebutuhan udang yang tinggi dan kerusakan yang ditimbulkan akibat budidaya udang di tambak, muncul beragam temuan yang melahirkan budidaya tambak yang ramah lingkungan. Dari beragam temuan tersebut, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait budidaya udang agar tidak mencemari lingkungan menurut South East Asian Association Of Fisheries dan South East Development Centerasian  Nations.

Perhatikan Sistem Pembuangan Air Kolam Tambak

Pada dasarnya terdapat dua sistem pembuangan air kolam tambak, yaitu sistem pembuangan air minimal dan sistem resirkulasi. Perbedaannya adalah bahwa pada sistem yang pertama, sejumlah kecil air dibuang dari kolam pembesaran dan dialirkan ke laut setelah melalui kolam treatment. Sedangkan pada sistem kedua, buangan dari kolam pembesaran digunakan lagi atau diresirkulasi setelah melewati kolam treatment.

Pada sistem resirkulasi tertutup, air seluruhnya diresirkulasi dengan memompanya dua kali, pertama dari kolampenampungan masuk ke kolam pembesaran, dan yang kedua, dari kolam pengendapan kekolam pembesaran. Pada sistem  pembuangan air minimal, air hanya sekali dipompa, yaitudari kolam penampungan utama masuk ke kolam pembesaran.

Sistem pembuangan air minimal dan sistem resirkulasi tertutup mencakup pulapencegahan penyakit dan pembuangan atau pengurangan buangan organik, bakteria berbahaya dan polutan lainnya dari air kotor.Sistem tersebut bersifat ramah lingkungan karena cara ini  mengintegrasikan kolam penampungan air,  kolam pengendapan, rotasi penanaman, bahan, sistem pendukung kehidupan,dan probiotik biomanipulator, biofilter penampung lumpur.

Perhatikan Kolam Penampungan Air

Luas kolam penampungan ini paling sedikit 25% dari kolam pembesaran. Air yang masuk seluruhnya ditampung sementara di kolam penampungan untuk paling tidak satu minggu, sebelum dialirkan ke kolam pembesaran. Bila kolam penampungan ini hanya tersedia satu saja, sebaiknya dibagi menjadi dua bagian yang bisa dipakai bergantian.

Pada kolam penampungan inilah salinitas air dapat dikontrol dan disesuaikan. Kolam penampungan juga membantu mengurangi, kalaupun tidak menghilangkan sama sekali, adanya inang dan pembawa penyakit dari jenis udang-udangan. Air dipompakan masuk ke kolam pembesaran melewati bak saringan untuk mencegah spesies lain dari luar masuk ke kolam.

Bangun Sekat-sekat di Kolam Pengendapan

Kolam pengendapan (juga disebut kolam sedimentasi, kolam penampungan buangan atau kolam) treatment berfungsi untuk menampung air buangan dari kolam pembesaran, agar zat hara terlarut dan butiran zat padat melayang dapat berkurang seminimal mungkin sebelum dialirkan kembali ke kolam penampungan.

Air yang keluar dari kolam pembesaran di treatment terlebih dahulu melewati sistem treatment sekat yang dipasang di kolam pengendapan. Sekat-sekat ini terbuat dari lembaran plastik atau jaring kawat halus yang memungkinkan terjadinya penyaringan mekanis dan gerak mengalir dengan cara berkelok-kelok proses sedimentasi pada saat air bergerak mengalir dengan cara berkelok-kelok. Selain sekat-sekat tersebut dibutuhkan filter biologisseperti oyster, kerang dan rumput laut (Gracillaria spp. dan ganggang hijau) digantungkan di kolam pengendapan tersebut meminimalkan konsentrasi zat hara terlarut pada air buangan.

Penjaga Laut, itu tadi beberapa hal yang perlu diperhatikan agar budidaya udang tidak mencmari lingkungan. Masih terdapat hal yang juga perlu diperhatikan selain ketiga hal tersebut, seperti memperhatikan lokasi pembuatan tambak agar tidak menggangu ekosistem mangrove. Dengan mempraktikan hal-hal ini, budidaya udang setidaknya dapat mengurangi dampak pencemaran lingkungan.

 

Sumber:

https://www.mongabay.co.id/2020/06/15/menggenjot-produksi-udang-dengan-budi-daya-ramah-lingkungan/

https://www.idntimes.com/science/discovery/keenanthy/fakta-menarik-udang-exp-c1c2

http://ocs.abulyatama.ac.id/

http://oseanografi.lipi.go.id/dokumen/oseana_xxxiii(2)15-24.pdf

http://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/mra/article/view/7331/6022

http://amhariati.lecture.ub.ac.id/files/2012/04/Manajemen-Budidaya-Udang-yang-ramah-lingkungan.pdf

http://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/mra/article/view/7331/6022

http://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/mra/article/view/7331/6022

No Comments

Post A Comment