Nelayan Kecil Kita Untuk Perikanan Yang Berkelanjutan

Nelayan Kecil Kita Untuk Perikanan Yang Berkelanjutan

Penjaga laut, 70% permukaan Bumi ditutupi oleh lautan yang menyimpan kekayaan bahari yang melimpah untuk keberlangsungan hidup manusia. Hampir dari setengah kekayaan bahari itu hadir ke hadapan kita lewat ketangkasan orang-orang yang bertaruh nyawa di lautan menggunakan perahu dan alat tangkap sederhana.  Mereka semua berperan dalam memastikan keamanan pangan dan gizi jutaan manusia. Mereka adalah nelayan kecil yang menurut FAO jumlahnya diperkirakan mencapai 90% dari total pekerja yang menggantungkan hidupnya di sektor perikanan tangkap.

Di Indonesia, merujuk data dari KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan), nelayan yang beroperasi di sektor perikanan kecil berjumlah 85% dari total nelayan yang ada. Lebih dari 90% dari jumlah tersebut beroperasi di daerah pesisir dan memainkan peranan penting dalam kehidupan masyarakat disekitarnya.

Di Jawa Timur misalnya, nelayan Lamongan telah menghasilkan 17% atau setara dengan 76.863 ton dari total produksi ikan di provinsi tersebut. Armada perikanan para nelayan Lamongan, didominasi oleh armada  berukuran  kecil  (kurang  dari 5 GT) yang jumlahnya mencapai 64,17% dari total nelayan yang ada di sana. Percaya atau tidak, mereka yang telah berjasa menghasilkan sejumlah angka-angka mengejutkan tersebut adalah nelayan kecil kita. Gambaran ini memberikan indikasi bahwa perikanan skala kecil atau nelayan kecil di Lamongan tetap memberikan kontribusi terhadap perekonomian wilayah.

Menurut FAO, secara umum, perikanan skala kecil atau nelayan kecil telah menjadi tumpuan harapan nelayan yang tinggal di kawasan pesisir sebagai sumber pendapatan yang menjanjikan. Namun, faktanya di Indonesia tumpuan tersebut belum cukup kuat.

Data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2017 menunjukkan nelayan sebagai salah satu profesi paling miskin di Indonesia. Data dari BPS (Badan Pusat Statistik) menunjukkan adanya penurunan jumlah rumah tangga perikanan tangkap secara drastis dari 2 juta di tahun 2000 menjadi 966 ribu di tahun 2016. Jumlah ini menunjukan bahwa profesi nelayan, khususnya nelayan kecil tak semenjanjikan dahulu.

Nelayan kecil belakangan ini tengah menghadapi sejumlah masalah yang mengancam eksistensi profesi ini. Keberadaan kapal-kapal besar dengan alat tangkapnya yang canggih telah mengeruk seisi laut dan seringkali membuat para nelayan kecil pulang dengan tangan hampa. Banyak dari mereka yang lantas tersingkir dan terlempar ke profesi lain. Para perompak Somalia, yang direkam apik oleh Kip Andersen dalam Seaspiracy adalah contoh bagaimana kapal-kapal besar itu telah merenggut penghidupan mereka.

Hal yang tak kalah mengkhawatirkan lagi adalah konsekuensi dari penggunaan alat tangkap kapal-kapal besar itu yang seringkali merusak apa yang ada di bawah laut sana. Tangkapan sampingan atau bycatch—sebuah konsekuensi yang pasti dari penggunaan alat tangkap kapal-kapal besar itu—menurut Captain Peter Hammarstedt dari Sea Shepherd Conservation Society dalam Film Seaspiracy, telah mengakibatkan 30.000 paus dan lumba-lumba dibunuh setiap tahunnya. Hal tersebut menyebabkan sejumlah predator di laut mengalami over populasi dan mengganggu rantai makanan di laut yang berujung kepada rusaknya ekosistem.

Di tengah kondisi tersebut, eksistensi nelayan kecil dalam sektor perikanan tangkap sangatlah dibutuhkan. Tak hanya untuk tetap menjaga ketersediaan pangan dan gizi bagi jutaan orang, penggunaan alat tangkap sederhana yang ramah lingkungan secara tidak langsung dapat menjaga ketersediaan ikan. Mengutip FAO, nelayan kecil yang menggunakan alat tangkap selektif,  berdampak    rendah  pada  habitat  laut  di sekitarnya,  sehingga  perikanan  ini menjadi   pilihan   yang   paling   memungkinkan untuk  mengurangi  eksploitasi  yang  berlebihan disebabkan perikanan lainnya.

Dengan kata lain, para nelayan kecil kita tak hanya berkontribusi terhadap perekonomian wilayah dan ketersediaan hasil laut yang ada. Namun, lebih dari itu, nelayan-nelayan kecil ini telah berkontribusi terhadap perikanan yang berkelanjutan.

Sumber:

https://theconversation.com/nelayan-memang-miskin-tapi-riset-buktikan-mereka-tetap-bahagia-136496

https://www.mongabay.co.id/2018/02/01/subsidi-perikanan-tepatnya-untuk-siapa/

https://nationalgeographic.grid.id/read/13303923/peran-nelayan-kecil-dalam-pengeloalaan-kawasan-konservasi-perikanan?page=all

Seaspiracy. Kip Andersen. Netflix 2021. Film

https://www.mongabay.co.id/2021/04/02/masa-depan-perikanan-dunia-adalah-nelayan-skala-kecil/

http://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/sosek/article/viewFile/3170/2677

http://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/bawal/article/view/3677/3164

http://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/jkse/article/view/7239/6839

https://kkp.go.id/djprl/lpsplsorong/artikel/24663-pengelolaan-perikanan-skala-kecil-dengan-pendekatan-kearifan-lokal-di-wilayah-timur-indonesia

http://www.fao.org/3/ca6479id/CA6479ID.pdf

No Comments

Post A Comment