Hutan Berkurang Stok Kepiting Bakau Indonesia Terancam

Hutan Berkurang Stok Kepiting Bakau Indonesia Terancam

Penjaga laut, sosok tuan crab mungkin tak asing dimatamu bukan? Nah, jika dalam serial kartun spongeboob ia digambarkan sebagai bos yang tamak dan egois, salah satu keluarganya yang hidup di pesisir pantai justru memiliki peran penting bagi lingkungannya. Ia adalah Scylla Spp atau kepiting bakau yang seperti namanya hidup di hutan bakau atau hutan mangrove.

Dibeberapa tempat di Indonesia, kepiting bakau dikenal dengan istilah lain. Di Jawa, masyarakat mengenaInya dengan nama kepiting, di Maluku Tengah dikenal sebagai katang nene, sedangkan di sebagian Sumatera, dikenal sebagai ketam batu, kepiting cina, atau kepiting hijau. Selain di hutan bakau atau kawasan mangrove, kepiting bakau juga juga menyukai dasar perairan berlumpur dan secara umum tersebar di seluruh perairan Indonesia.

Menurut MOOSA (dalam Pratiwi, 2011), kepiting bakau tergolong dalam Famili Portunidae, yang terdiri atas enam Subfamili yaitu: Carcininae, Caphyrinae, Catoptrinae, Portuninae, Polybiinae dan Podophthalminae. MOOSA memperkirakan ada sekitar 234 jenis yang tergolong dalam Famili Portunidae, di wilayah Indopasifik Barat dan 124 jenis di Indonesia. Famili Portunidae tergolong dalam kelompok kepiting perenang (swimming crabs), karena memiliki pasangan kaki terakhir yang memipih, dan dapat digunakan untuk berenang.

Kepiting bakau, tergolong sebagai hewan nokturnal. Ia baru keluar dari persembunyiannya beberapa saat setelah matahari terbenam  untuk beraktivitas dan mencari makan. Sebagai hewan yang hidup di hutan mangrove, makanan utama dari Syclla Spp ini cukup beragam. Ia menyukai algae, bangkai hewan dan udang-udangan. Meski Sycalla Spp khas berada di kawasan bakau, ia jarang terlihat di daerah bakau pada tingkat juvenil atau berumur muda, karena lebih suka membenamkan diri ke dalam lumpur.

Selain berperan dalam siklus rantai makanan, kepiting bakau juga memainkan peranan ekologis lainnya. Lubang-Iubang yang digalinya selain berfungsi sebagai tempat berlindung dan mencari makan, juga berguna sebagai media untuk melewatkan oksigen agar dapat masuk ke bagian substrat yang lebih dalam, sehingga dapat memperbaiki kondisi anoksik dalam substrat hutan mangrove. Ia juga memiliki nilai ekonomis bagi masyarakat pesisir yang bermata pencaharian sebagai pembudidaya kepiting dan nelayan. Permintaan kepiting bakau dibeberapa tempat untuk dikonsumsi cukup tinggi. Hal inilah yang menjadikan kepiting bakau memiliki peran penting dalam ekosistem pesisir.

Namun, belakangan ini terjadi penurunan populasi dari kepiting bakau dibeberapa tempat salah satunya di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Menurut nelayan setempat  dalam 10 tahun terakhir hasil tangkapannya menurun dan penyebabnya be-lum  diketahui  dengan  pasti  apakah  dipenga-ruhi  oleh overfishing  atau  akibat  kerusakan habitat.  Meski, belum ada studi yang menghitung jumlah stok kepiting bakau di Indonesia. Namun, jika diukur berdasarkan jumlah luasan lahan hutan mangrove yang kian berkurang sebagai habitatnya, diprediksikan stok kepiting bakau juga menurun.

Data luas mangrove Indonesia 2010, sebesar 3,75 juta hektar, dengan 2,17 juta hektar di kawasan hutan dan 1,58 juta hektar luar kawasan. Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2015, menyebutkan, luas mangrove Indonesia 3,49 juta hektar, atau 19% dari total dunia alias 63% ASEAN. Jika dihitung, maka dalam waktu lima tahun, sejak 2010, terdapat degradasi mangrove seluas 260.859, 32 hektar.

Faktor penyebab dari hilangnya sejumlah kawasan mangrove diantaranya disebabkan oleh konversi hutan mangrove untuk pengembangan kota-kota dan pemukiman pantai, perluasan tambak dan lahan pertanian serta penebangan tak terkendali. Faktor ini semakin diperparah dengan fakta kurangnya tegasnya otoritas setempat baik pemerintah pusat dan daerah dalam menegakan hukum dan perundang-undangan. Belum lagi, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konservasi dan perlindungan ekosistem mangrove masih lemah.

Kompleksitas problem tersebut, telah memposisikan kepiting bakau dalam ancanman. Dengan laju degradasi kawasan mangrove yang kian masif, pemintaan kepiting bakau yang tinggi juga telah menyebabkan ancaman penurunan populasi semakin nyata.

Penjaga laut, deengan kondisi tersebut, tak terlalu berlebihan nampaknya untuk mengatakan penting keberadaan kepiting bakau perlu perhatian serius dari seluruh pihak, termasuk kita. Menurutmu, apa yang bisa kita lakukan untuk terus menjaga kepiting bakau tetap lestari?

 

Sumber:

https://www.mongabay.co.id/hutan-mangrove/

https://www.kompas.com/skola/read/2020/06/17/180000269/potensi-kemaritiman-indonesia-hutan-mangrove?page=all

https://www.mongabay.co.id/2020/08/02/mangrove-garda-terdepan-jaga-pesisir/

https://core.ac.uk/download/pdf/228446151.pdf

http://awsassets.wwf.or.id/downloads/capture___bmp_kepiting_bakau___des_2015.pdf

http://oseanografi.lipi.go.id/dokumen/os_xxxvi_1_2011-1.pdf

http://eprints.undip.ac.id/15728/1/Miti_suryani.pdf

https://media.neliti.com/media/publications/98904-ID-none.pdf

No Comments

Post A Comment