Berkenalan dengan Penyu-Penyu Dilindungi di Indonesia

Berkenalan dengan Penyu-Penyu Dilindungi di Indonesia

Sejak kecil nampaknya kita lebih akrab dengan penyu hijau. Warna hijau dan motif di kulit serta tempurungnya tampak familiar bagi kita, terlebih bagi penonton film animasi Finding Nemo garapan PIXAR. Crush si penyu hijau yang membantu Nemo saat mengarungi Arus Australia Timur digambarkan sebagai penyu berusia ratusan tahun yang gemar memberi tumpangan pada hewan-hewan kecil. Ternyata, karakter ini berdasar sifat asli penyu hijau, lho! Selain penyu hijau seperti si Crush, ada beberapa spesies penyu lain yang karakternya juga menarik.

Dari tujuh spesies penyu yang saat ini masih ada di dunia, enam di antaranya hidup di laut Indonesia dan ditetapkan sebagai hewan-hewan yang dilindungi[1]. Konon, tak kenal maka tak sayang, jadi yuk kenali penyu-penyu ini agar sayang dan turut melindungi mereka dari kepunahan!

  1. Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea)

Dikenal sebagai salah satu penyu terbesar, serta satu-satunya spesies penyu yang tidak bersisik dan tidak bercangkang. Penyu belimbing memperoleh namanya dari  bentuk punggungnya yang memiliki tujuh garis dan menyerupai belimbing.

Kulit hewan ini elastis, sehingga dapat tumbuh menjadi besar. Namun, meski panjang badannya dapat mencapai 1,7 meter, rahang penyu belimbing tak sekuat teman-temannya yang dapat memecah cangkang hewan laut mangsanya. Oleh karena itu, penyu belimbing lebih suka memakan ubur-ubur. Namun, si penyu berbadan besar ini gesit lho! Dia mampu menyelam hingga kedalaman 1.300 dan aktif bermigrasi.

Populasi penyu belimbing terus menurun akibat beberapa faktor: pertama, perubahan habitatnya akibat krisis iklim, pemanasan global, dan perubahan peruntukan wilayah seperti untuk area komersial dan wisata. Kedua, mereka juga rawan diburu, dan kerap tak sengaja terjaring alat penangkap ikan. Ketiga, akibat polusi lautan, baik polusi dari industri maupun aktivitas militer.

Penyu jenis ini hidup di area tropis dan subtropis, mulai dari Australia, Indonesia, hingga Irlandia. Bila ingin berkenalan langsung, penyu belimbing dapat dijumpai di pesisir wilayah Sumatera, Selatan Jawa, Nusa Tenggara, dan Sorong, tetapi ingat, jangan ditangkap, dibawa pulang, apalagi dibunuh ya! They belong to the oceans.

  1. Penyu Hijau (Chelonia mydas)

Penyu hijau dapat dengan mudah ditemukan di laut tropis, dan diyakini hidup di perairan 140 negara termasuk Indonesia. Namun hewan ini telah diyakini punah di perairan Kepulauan Cayman Mauritius, dan diduga telah punah juga di Israel.

Seperti penyu belimbing, penyu hijau juga melakukan migrasi, termasuk untuk berkembang biak. Penyu hijau betina bertelur di kawasan pesisir, setelah menetas tukik-tukik akan berenang menuju ke laut. Setelah beberapa tahun mengarungi laut, para penyu hijau kecil ini akan menghabiskan masa mudanya untuk tumbuh di area yang kaya akan lamun, rumput laut, maupun algae laut hingga mereka dewasa.

Populasi spesies penyu ini terus menurun akibat perburuan, dampak tak sengaja aktivitas perikanan, dan perubahan habitatnya menjadi area wisata. IUCN mengkategorikan penyu hijau sebagai hewan terancam, dan dilindungi oleh hukum internasional, sehingga dilarang untuk diperjualbelikan.

Penyu Hijau dapat ditemukan di seluruh kepulauan di Indonesia.

  1. Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata)

Seperti penyu lain, penyu sisik menetas di area pasir pesisir, kemudian bergerak menuju laut. Penyu sisik muda yang berukuran 20-30 cm biasanya ditemukan di area pelagik, sedangkan yang sudah tumbuh lebih besar hidup di area dasar yang lebih keras seperti terumbu karang.

Penyu sisik juga merupakan penyu pengembara yang aktif melakukan migrasi di area lautan tropis dan subtropis. Berdasarkan data IUCN, penyu sisik dapat ditemukan di 108 negara, sedangkan area perkembangbiakannya tersebar di 70 negara. Namun, angka tersebut mungkin mengalami perubahan, karena pengeboran minyak lepas pantai, perubahan peruntukan kawasan pesisir sebagai tempat wisata, aktivitas perikanan yang merusak, polusi, perburuan, dan krisis iklim telah mempengaruhi habitat mereka hidup.

Pada abad ke-19 penyu sisik diburu habis-habisan untuk diambil tempurungnya sebagai bahan perhiasan. Perhiasan berbahan tempurung penyu sisik ditemukan mulai dari peninggalan kekaisaran China hingga Mesir. Namun, negara-negara Eropa seperti Portugis, Belanda, Perancis dan Inggris menjadi pemain besar dalam pasar eksploitasi penyu sisik yang bersumber dari kawasan Hindia Timur, termasuk Indonesia.

Seabad berlalu namun penyu sisik masih diburu. Pada abad ke-20, perburuan penyu ini masih masif, dan Jepang menjadi negara importir terbesar. Indonesia sendiri menyuplai 155.654 ekor penyu untuk Jepang saat itu, dan menjadi salah satu supplier terbesar untuk komoditas yang saat itu dianggap barang mewah. Di abad ke-21 penyu hijau resmi dilarang untuk diperdagangkan, Indonesia pun melindungi satwa ini melalui PP no. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Meski demikian, perdagangan ilegal masih ditemukan, termasuk di Indonesia.

Penjaga Laut dapat menemui penyu sisik di perairan Anambas, Natuna, Belitong, Lampung, Ujung Pandang, Kepulauan Derawan, dan Kepulauan Seribu. Namun, bila kalian menemukan mereka di pasar sebagai barang dagangan, jangan segan untuk melaporkan ya.

  1. Penyu Ridel (Lepidochelys olivacea)

Penyu ini juga merupakan penyu tropis, dan area perkembangbiakannya tersebar di kawasan pesisir berpasir di 60 negara tropis, kecuali Teluk Meksiko. Penyu betina dapat bertelur hingga tiga kali dalam satu musim berkembang biak, dan menghasilkan 100-110 butir telur dalam sekali proses bertelur.

Populasinya terus menurun akibat ancaman yang relatif sama dengan penyu lainnya, termasuk diburu untuk dikonsumsi. Penyu berstatus rentan ini memiliki ciri-ciri bentuk tempurung yang nyaris bulat tanpa alur memanjang dan memiliki enam sisik coastal yang besar. Selain itu, penyu ridel memiliki ukuran kepala lebih besar, dan bentuk karapas yang lebih langsing dan bersudut. Dari segi ukuran, penyu ini memiliki ukuran paling kecil di antara kawan-kawannya.

Di Indonesia, penyu jenis ini hidup di perairan Sumatera, Alas Purwo Jawa Timur, Paloh Kalimantan Barat, dan perairan Nusa Tenggara Timur.

  1. Penyu pipih (Natator depressus)

Julukan penyu ini berasal dari bentuk tubuhnya yang pipih, dengan tempurung yang cekung tanpa alur memanjang. Ia memiliki empat buah sisik coastal besar, sepasang sisik muka, serta sisik di depan mata. Saat dewasa, bobotnya sekitar 70 Kg. Ukuran penyu betina biasanya lebih besar, namun pejantan memiliki ekor yang lebih panjang. Penyu pipih memiliki kulit yang lebih tipis dibanding jenis penyu lain, oleh karena itu ia biasanya menghindari area karang dan tinggal di area yang lebih lembut seperti dasar berpasir.

Penyu pipih dapat hidup hingga lebih dari 100 tahun, dan individu penyu dikategorikan dewasa bila telah mencapai rentang usia 7 hingga 50 tahun. Pada usia produktif tersebut, penyu betina bertelur dengan kisaran 50 butir, jauh lebih sedikit dibanding penyu lain yang dapat bertelur hingga lebih dari 100 butir.

Selain kemampuan bertelur dan ciri fisiknya, karakter penyu pipih juga berbeda dari penyu-penyu lain. Ia tak suka mengembara seperti kawan-kawannya, ia lebih suka tinggal di sekitar rumahnya di area Australia. Oleh karena itu, di Indonesia pun penyu jenis ini hanya dapat ditemukan di perairan Papua.

  1. Penyu Tempayan (Caretta carreta)

Tidak seperti teman-temannya yang hidup di area tropis, penyu tempayan hidup di perairan subtropis dan laut Mediterania, samudera Pasifik, Hindia dan Atlantik. Oleh karena itu, ia jarang ditemui di Indonesia. Namun sama seperti kawan-kawannya, penyu jenis ini juga bermigrasi termasuk untuk berkembang biak. Penyu tempayan betina bermigrasi setiap 2,5-3 tahun sekali untuk menemukan area pantai berpasir di area subtropis dimana ia dapat bertelur. Penyu-penyu ini dikategorikan dewasa dan dapat berkembang biak setelah mencapai rentang usia 10-39 tahun.

Spesies ini berstatus rentan dan ancaman yang dihadapi relatif sama dengan penyu jenis lainnya: perubahan habitat akibat krisis iklim, penggunaan kawasan pesisir sebagai area komersial, sampah laut, ancaman predator, dan perburuan untuk dikonsumsi daging dan telurnya.

Sumber :

Animal Diversity Web, https://animaldiversity.org/accounts/Natator_depressus/#geographic_range

International Union for Conservation of Nature and Natural Resources, Red list https://www.iucnredlist.org/search?query=Sea%20Turtles&searchType=species

Jenis-Jenis Penyu Yang Dilindungi Indonesia, kkp.go.id,  18 Juli 2018.

6 dari 7 Species Penyu Langka Ada di Indonesia, Bagaimana wujudnya?, sains.kompas.com, 24 Mei 2019

 

 

[1] https://kkp.go.id/djprl/infografis-detail/2756-jenis-jenis-penyu-yang-dilindungi-di-indonesia

No Comments

Post A Comment