Mengapa Laut Indonesia Sangat Kaya

Mengapa Laut Indonesia Sangat Kaya

Penjaga laut, para ahli sepakat bahwa salah satu pusat keanekaragaman jenis biota laut dan tempat asal usul biota laut yang ada didunia berada di sekitar laut Indonesia dan Philiphina. Laut yang kaya ini menjadi penyangga kehidupan  60% dari total penduduk di Indonesia tinggal di wilayah pesisir. Namun, pernahkah kamu berpikir apa yang menyebabkan laut Indonesia begitu kaya?

Dengan luas total laut Indonesia sekitar 5 juta km2 dan luas zona ekonomi eksklusif 2,7 juta km2, negara yang memiliki tiga zonasi waktu ini memiliki 3.424 jenis ikan dari 32.000 jenis ikan yang terindentifikasi di bumi. Menurut perkiraan para ahli jumlah jenis biota laut yang ada di dunia diperkirakan antara 250.000-300.000 jenis. Snelgrove menyebutkan (dalam Suharsono, 2:2014), setiap tahun ada sekitar 1300 – 1500 jenis baru biota laut ditemukan di dunia. Dari sejumlah data tersebut, para ahli sepakat bahwa laut Indonesia mempunyai keanekaragaman tertingi di dunia untuk beberapa jenis biota laut.

Dikutip dari bukunya yang berjudul Biodeversitas Biota Laut Indonesia (3:2014), Suharsono menyebutkan biota-biota laut terebut adalah ikan Hiu (Compagno 1999, Last et al 2010), Ikan karang (Allen 1997, Burke et al 2002, Werner and Allen 2000 Mora et al 2003), Moluska (Kohn 1967), karang (Spalding et al 2001, Wallace et al 2003, Hoeksema and Putra 2003), sponge (De voogd and Van Soest 2002), foraminifera (Hohnegger et al 2000, Renema 2002), sidat (Sugeha et al 2008), Stomatopoda (Barber et al 2000), ular laut (Heatwole, 1999), Mangrove (Alongi 2002, Giesen et al 2007).

Ragam jenis biota laut tersebut muncul karena letak geografis Indonesia yang terletak di antara dua benua Australia dan Asia serta diantara dua Samudra Pasifik dan Samudera Hindia. Letak ini menjadikan wilayah laut Indonesia membentuk semacam bendungan raksasa atau saringan air terbesar di dunia. Bendungan ini terbentuk dari perbedaan tinggi muka air Samudera Pasifik yang lebih tinggi dibandingkan muka air Samudera Hindia. Perbedaan ketinggian ini telah memungkinkan aliran air—dengan  besaran 15 SV/detik (15 x 10jt/m3/det)—mengalir melalui selat-selat sepanjang Pulau Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Adanya perbedaan muka air, dan aliran laut dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia yang disebarkan melalui selat-selat yang berfungsi selayaknya wahana inilah, yang memungkinkan anakan biota laut tersebar ke seluruh perairan Indonesia dan dunia.

Penyebaran biota laut ke seluruh laut di Indonesia juga disebabkan oleh fakta bahwa laut yang terbentang sejauh 51.000 km dari timur ke barat dan 1.800 km dari utara ke selatan ini, memiliki pola arus musiman yang terjadi akibat angin muson. Pola arus ini waktu dan arahnya sejalan dengan angin muson barat dan angin muson timur yaitu enam bulan kearah timur dan enam bulan kearah barat. Arah pola arus ini juga bisa berubah, tergantung dari letak pulau seperti di Kepulauan Riau. Karena letaknya, pola arus di kepulauan Riau ini lebih dikenal dengan arus selatan dan arus utara. Hal ini disebabkan oleh karena arus dari Laut Jawa dengan arah barat timur ketika sampai di Selat Karimata atau kepulaun Bangka-Belitung berbelok arah menjadi utara selatan. Begitu juga halnya pola arus permukaan yang terjadi di Indonesia timur, arus dari Laut Banda pada musim barat akan menyebar ke arah utara hingga Halmahera dan pada waktu musim timur arah arus arus berbalik kearah selatan. Angin musim yang menyebabkan terjadinya arus dengan arah timur barat ini menjamin terjadinya penyebaran larva biota laut dari barat ke timur dan sebaliknya.

Arus laut yang mengalir, tidak selalu berjalan dengan mulus. Adanya dasar laut yang tidak rata dan adanya hadangan pulau-pulau yang ribuan jumlahnya menyebabkan terjadinya pembelokan, pengangkatan, penenggelaman dan pengadukan arus laut. Masa air yang dibawa oleh arus laut ini juga memililiki perbedaan keasamaan, densitas, salinitas dan temperatur seperti perbedaan Lautan Pasifik dan Laut Natuna. Laut Pasifik mempunyai suhu yang lebih tinggi dibandingkan di Laut Natuna. Kombinasi wadah atau tempat yang sangat bervariasi dan komposisi kimiawi dan fisika air laut yang sangat bevarisi menyebabkan munculnya habitat yang sangat bervariasi dan kadang-kadang sangat unik.

Habitat yang bervariasi ini juga memunculkan sejumlah biota endemik yang khas di suatu wilayah. Seperti Ikan Coelacanth yang hidup di wilayah vulkanik dengan suhu antara 16-200 Celcius. Ikan yang telah mengalami beberapa kali evolusi dari ikan, reptil, amphibi hingga mamalia ini hanya ditemukan di perairan dekat Komoro, Afrika Selatan dan Sulawesi Utara, Indonesia. Ikan ini juga diperkirakan tersebar di Laut Selatan Jawa, Laut Karibia, Teluk Meksiko, Laut Cina selatan dan Laut Andaman. Lokasi-lokasi tersebut diperkirakan mempunyai kondisi lingkungan yang memungkinkan ikan ini dapat bertahan hidup.

Lokasi-lokasi ini muncul akibat proses putus-sambung lautan yang disebabkan penurunan muka laut di beberapa lokasi sehingga sutau wilayah terisolasi dan menjadi terputus kemudian akan tersambung kembali. Proses putus-sambung laut di Indonesia, disebabkan karena pergerakan atau subduksi yang terjadi antara keempat lempeng besar yang saling bertubrukan yaitu Indo-Australian, Eurasian, Philipine dan Pasifik.

Di masa lalu, proses ini tercatat telah terjadi di laut Indonesia selama empat kali dengan kisaran antara 100-150 meter dari permukaan laut yang terlihat saat ini. Proses putus-sambung ini bisa kita lihat saat dari keberadaan Paparan Sunda dan Paparan Sahul. Berbeda dengan paparan Sunda, Paparan Sahul yang dulunya merupakan daratan dan baru digenangi air laut sekitar 8000 tahun yang lalu tidak  pernah mengalami kekeringan selama jutaan tahun. Hal ini juga menjamin terjadinya proses evolusi yang berkesinambungan evolusi sepanjang masa. Proses evolusi yang disebabkan oleh putus-sambung lautan karena konfigurasi dan proses tatanan lempeng inilah yang menyebabkan biota jenis ikan di Indonesia beranekaragam. Teluk Tomini dan Teluk Cendrawasih merupakan contoh daerah yang mempunyai habitat yang unik oleh karena perubahan muka laut yang menybabkan daerah ini terisolasi.

Nah, penjaga laut itu tadi muasal dari kekayaan laut di Indonesia yang seringkali dibanggakan. Namun, kekayaan laut ini juga perlu dipertanggungjawabkan dengan menjaga, mengelola dan mempertahankannya. Apalagi, belakanga ini laju kerusakan laut jauh lebih cepat ketimbang laju pemulihannya.

 

Sumber:

Suharsono. 2014. Biodiversitas Biota Laut Indonesia. Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta

https://www.researchgate.net/publication/323309341

https://www.mongabay.co.id/2018/11/02/inilah-10-fakta-menarik-tentang-laut-indonesia/

https://www.mongabay.co.id/2018/11/02/inilah-10-fakta-menarik-tentang-laut-indonesia/

Mustika Rima. Agustus 2017. Dampak Degradasi Lingkungan Pesisir Terhadap Kondisi Ekonomi Nelayan: Studi Kasus Desa Takisung, Desa Kuala Tambangan,Desa Tabanio. Jurnal Dinamika Maritim Volume 6. Studi Agrobisnis Perikanan, Universitas Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan.

https://media.neliti.com/media/publications/233818-dampak-degradasi-lingkungan-pesisir-terh-8dde0c8e.pdf

No Comments

Post A Comment